KLHK Ungkap Alasan Penerapan Euro 4 Mesin Diesel Mundur

Kompas.com - 15/12/2020, 11:22 WIB
BMW X5 xDrive25d, menjadi model bermesin diesel pertama yang dirakit di Indonesia. KompasOtomotif-Febri Ardani SaragihBMW X5 xDrive25d, menjadi model bermesin diesel pertama yang dirakit di Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan untuk menunda penerapan standar emisi Euro 4 untuk mesin diesel di Indonesia. Aturan ini sebelumnya direncanakan berlaku April 2021, namun pelaksanaannya terpaksa tertunda sampai April 2022 karena beberapa hal.

Dasrul Chaniago, Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK, mengatakan, penundaan penerapan Euro 4 untuk mesin diesel bukan karena faktor politis dari para pemangku kepentingan.

Menurutnya, standar bahan bakar bersih diinginkan oleh industri otomotif, pemerhati lingkungan, hingga pemerintah.

Baca juga: Jokowi Undang Tesla untuk Berinvestasi di Indonesia

Pekerja merakit komponen mobil di pabrik baru Isuzu, di Karawang, Jawa Barat, Selasa (7/4/2015). Pabrik Isuzu Karawang Plant berlokasi di kawasan Suryacipta City of Industry ini memiliki kapasitas produksi 52 ribu unit per tahun dan dapat dikembangkan menjadi 80 ribu unit per tahun.TRIBUNNEWS / HERUDIN Pekerja merakit komponen mobil di pabrik baru Isuzu, di Karawang, Jawa Barat, Selasa (7/4/2015). Pabrik Isuzu Karawang Plant berlokasi di kawasan Suryacipta City of Industry ini memiliki kapasitas produksi 52 ribu unit per tahun dan dapat dikembangkan menjadi 80 ribu unit per tahun.

“Kami sampaikan kepentingan Euro 4, 5, dan 6 itu sangat dibutuhkan pihak otomotif. Jadi bukan hanya pihak pemerhati lingkungan, pemerintah, dan lain-lain,” ucap Dasrul, dalam webinar (14/12/2020).

Dasrul mengatakan, pandemi Covid-19 jadi alasan utama mengapa penerapan standar emisi Euro 4 harus mundur setahun.

Covid-19 telah menyebabkan pengadaan komponen Euro 4 diesel pada industri otomotif terhambat dilakukan.

Baca juga: Gebrakan Baru Toyota di Pasar Mobil Listrik Dunia

Ilustrasi polusi yang dikeluarkan knalpot kendaraan.Paultan.org Ilustrasi polusi yang dikeluarkan knalpot kendaraan.

Sejumlah tenaga ahli yang bertugas menyiapkan produksi pun harus kembali ke negaranya masing-masing.

“Pengujian engine dengan bobot di atas 3,5 ton dilakukan di luar negeri antara lain di Jerman, sampai saat ini masih terkendala terkait pengiriman,” ujar Dasrul.

“Satu lagi karena pandemi, stok motor atau mobil diesel sangat banyak menumpuk karena enggak laku, jadi itu ekonominya,” katanya.

Baca juga: Alasan Mengapa Susunan Kursi Bus Lebih Banyak di Sisi Kanan Kabin

Ekspor perdana Isuzu TragaRuly Kurniawan/Kompas.com Ekspor perdana Isuzu Traga

Selain itu, saat ini berlaku standar emisi Euro 2 untuk pasar domestik, dan standar emisi Euro 4 untuk ekspor. Menurut Dasrul, hal ini membuat produksi pabrik menjadi tidak efektif dan efisien, serta tidak bisa maksimum.

“Jadi dengan naiknya Euro kita, ekspor dan dalam negeri Euro 4 itu akan memudahkan pabrik otomotif. Jadi dorongan untuk naik ke tingkat lebih tinggi,” tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.