Gelar MotoGP, Sirkuit Mandalika Wajib Punya Tingkat Keamanan Tinggi

Kompas.com - 27/10/2021, 11:02 WIB
Dyan Dilato, Head of Operations - Sporting MGPA menjelaskan layout Sirkuit Mandalika Kompas.com/FathanDyan Dilato, Head of Operations - Sporting MGPA menjelaskan layout Sirkuit Mandalika

MANDALIKA, KOMPAS.com – Sirkuit Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat bakal menggelar berbagai balap internasional. Misalnya seperti Asia Talent Cup dan World Superbike yang bakal terlaksana kurang dari satu bulan lagi.

Selain itu, di tahun 2022 tepatnya bulan Maret, MotoGP akan kembali hadir di Indonesia. Sebelumnya, MotoGP juga pernah terlaksana di Indonesia, di Sirkuit Sentul pada tahun 1990-an.

Selisih sekitar 20 tahun, teknologi yang disematkan pada motor MotoGP semakin canggih dan cepat. Oleh karena itu, keamanan dari sebuah sirkuit yang menyelenggarakan balap MotoGP harus sangat tinggi.

Baca juga: 2 Unit Jetbus 3+ UHD Milik PO STJ Siap Diluncurkan

Proses pembangunan Sirkuit MandalikaKOMPAS.com/FATHAN RADITYASANI Proses pembangunan Sirkuit Mandalika

Dyan Dilato, Head of Operations – Sporting Mandalika Grand Prix Association (MGPA) mengatakan, salah satu hal yang menyebabkan Sirkuit Sentul tidak bisa menggelar MotoGP adalah persoalan safety dari sirkuitnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Tingkat safety (Sentul) sudah enggak mendukung. Motor sekarang makin enteng, kencang, ridernya juga semakin gokil,” ucapnya di Mandalika belum lama ini.

Dyan menjelaskan, kalau zaman dulu, diibaratkan skala 1-10, tingkat safety dari trek cukup ada di angka enam. Namun sekarang, tingkat keamanan dari trek yang menyelenggarakan balap motor harus ada di angka sembilan.

Baca juga: Cara Suzuki Goda Calon Konsumen XL7

“Kalau enggak safety sirkuitnya, mereka enggak mau (balap). Misalnya seperti kemarin di Circuit of The Americas, ada 11 pebalap MotoGP protes, kalau trek begini terus (bumpy/bergelombang) mereka enggak mau balap,” kata Dyan.

Selain itu, walaupun sudah punya kontrak beberapa tahun untuk menggelar balapan, ketika pelaksanaannya buruk, bisa langsung dihentikan. Dyan memberi contoh seperti di Shanghai yang masih punya kontrak lima tahun, tapi diputus.

“Artinya, walaupun kita punya kontrak 10 tahun, kita bikin kesalahan seperti marshal enggak beres atau lainnya bisa diputus. Mereka cuma bilang ‘once is enough, two times is too much’, karena masih banyak negara lain yang mau jadi host MotoGP,” ucap Dyan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.