Bus Listrik sebagai Transportasi AKAP Masih Terganjal Kendala Besar

Kompas.com - 05/10/2022, 07:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Penggunaan bus listrik berbasis baterai khusus layanan Antar Kota dan Antar Provinsi (AKAP) di Indonesia masih menghadapi kendala besar, seiring dengan beragamnya kontur jalan dan karakteristik penggunaannya.

Selain itu, ketersediaan dan teknologi infrastruktur pendukung pun masih jauh dari kata ideal. Sehingga moda transportasi bus listrik, saat ini baru bisa digunakan sebagai layanan dalam kota saja seperti TransJakarta.

Demikian dikatakan Komisaris Utama Perusahaan Otobus Siliwangi Antar Nusa (PO SAN), Hasanuddin Adnan saat ditemui dalam peluncuran bus baru PO SAN di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/10/2022).

Baca juga: Tips Menghadapi Genangan Air Saat Mengemudikan Mobil

Bus AKAP PO SANDOK. PERPALZ TV Bus AKAP PO SAN

"Kita setuju saja menggunakan bus listrik, tapi waktunya itu yang perlu untuk ditunggu sama-sama. Sebab sampai sekarang, bus listrik masih menemui hal-hal yang perlu dicari jawabannya," kata dia.

"Pertama pada sisi charging (pengisian daya listrik) dan keterbatasan di jarak tempuh. Setahu saya, hingga saat ini belum ada yang mampu menempuh jarak lebih dari 300 kilometer sementara trayek kita panjang-panjang, ada yang sampai 42 jam perjalanan," lanjut Adnan.

Kedua, kata dia lagi, ialah medan jalan yang ditempuh cukup ekstrem dengan rata-rata tanjakkan mencapai 40-60 derajat. Tak seperti jalur perkotaan atau tol Jakarta-Bandung.

Sehingga perlu adanya pengujian untuk memastikan apakah bus listrik dapat menaklukkannya. Mengingat moda transportasi terkait, memiliki beban lebih berat daripada bus konvensional karena ada komponen baterai yang besar.

Baca juga: Rawan Celaka, Hati-hati Berkendara di Jalan Tol Saat Hujan

Sasis bus listrik Mercedes Benz eO500UMERCEDES-BENS-BUS.com Sasis bus listrik Mercedes Benz eO500U

"Kalau saya membuat suatu hitungan, rata-rata tanjakkan yang selama ini kita jalani 40-60 derajat. Mungkin untuk bus listrik itu belum mampu, bahkan saat menanjak di 42 derajat," ucap Adnan.

Terakhir, yang patut diperhatikan dan diselesaikan bersama agar bus listrik bisa melayani sebagai angkutan AKAP ialah durasi perjalanan karena terdapat penambahan waktu untuk melakukan pengisian daya-nya (charging).

"Jadi tidak hanya kehadiran fasilitas charging, tapi durasinya itu berapa lama karena menentukan waktu tempuh perjalanan. Sekarang walaupun terseok-seok dengan Solar, kita masih bisa jalan tapi kalau listrik, belum tentu," kata dia lagi.

Baca juga: PO San Hadirkan 4 Bus Eksekutif Baru, Pakai Sasis Scania

Oleh karenanya, ia berharap seluruh pihak terkait mau bersama-sama mencari solusi dan model bisnis terbaik supaya penggunaan kendaraan listrik juga bisa digunakan di layanan AKAP.

"Saya tidak tahu kapan, tapi dengan jarak yang jauh tidak mungkin bus listrik kita gunakan saat ini. Mungkin saat semua infrastruktur pengisian dan waktu pengisiannya lebih cepat, bisa," ucap Adnan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.