Benarkah Pembonceng Lebih Berisiko Saat Kecelakaan Motor?

Kompas.com - 28/07/2020, 19:21 WIB
Kendaraan pemudik dengan sepeda motor melintas pada puncak arus balik di jalan nasional Medan-Aceh kawasan Lhokseumawe, Aceh, Minggu (9/6/2019). Puncak arus balik Lebaran 2019 Aceh terjadi pada H+5 menyusul volume kendaraan yang melintas didominasi pemudik.(ANTARA FOTO/RAHMAD) KOMPAS.com/GilangKendaraan pemudik dengan sepeda motor melintas pada puncak arus balik di jalan nasional Medan-Aceh kawasan Lhokseumawe, Aceh, Minggu (9/6/2019). Puncak arus balik Lebaran 2019 Aceh terjadi pada H+5 menyusul volume kendaraan yang melintas didominasi pemudik.(ANTARA FOTO/RAHMAD)

JAKARTA, KOMPAS.com - Sepeda motor saat ini menjadi alat mobilitas yang paling populer dan lebih terjangkau dibanding dengan mobil. Bahkan saat ini dimanfaatkan untuk berbisnis, seperti Gojek dan Grab Bike, walaupun bukan tergolong kendaraan umum.

Terlepas dari keuntungan-keuntungan menggunakannya, sepeda motor ternyata memiliki status sebagai kendaraan tunggal. Artinya akan ideal jika digunakan tanpa berboncengan.

Dalam beberapa kasus kecelakaan, pembonceng kerap menjadi korban luka berat dibanding pengemudinya, atau bahkan meninggal dunia. Ini artinya, kalau pembonceng sepeda motor punya risiko besar.

Baca juga: Harley Rancang Sistem Keseimbangan Mandiri, Anti-Jatuh buat Pemula

Hal ini lantaran pembonceng tidak bisa mengantisipasi, dan tidak memiliki genggaman yang pas dan sempurna (kecuali memeluk pengemudi).

Ilustrasi kecelakaan sepeda motorhttps://www.lifehacker.com.au/ Ilustrasi kecelakaan sepeda motor

“Pembonceng sepeda motor lebih riskan terlontar, karena mereka tidak seperti si pengemudi yang berpegang ke setang motor. Lebih dari itu, penumpang juga tidak mampu mengantisipasi kondisi yang akan terjadi, seperti pengemudi,” ujar Edo Rusyanto, Koordinator Jarak Aman, kepada Kompas.com.

Edo memberikan beberapa saran, agar pembonceng memiliki kesempatan untuk bisa selamat, dan ikut berkontribusi membuat pengumudi nyaman. Pertama adalah, si penumpang memang harus menyatu dengan pengendara.

Baca juga: Kenapa Mini John Cooper Works GT Pakai Transmisi Matik?

“Menyatu di sini yaitu berpegangan erat dengan pengendara di bagian perut. Lalu, tidak melakukan gerakan berlawanan dengan pengendara, ketika bermanuver,” ucap Edo.

Kemudian terkahir, yang juga tidak kalah penting lanjut Edo, memakai helm pelindung kepala yang mumpuni sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI).



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X