Nasib Ganjil Genap Jakarta Usai PSBB Belum Putus

Kompas.com - 03/06/2020, 08:22 WIB
Petugas kepolisian mengatur lalulintas saat hari pertama penindakan sistem ganjil-genap di kawasan Matraman, Jakarta, Senin (9/9/2019). Petugas kepolisian mulai memberlakukan penindakan berupa tilang terhadap pengendara mobil yang melanggar di kawasan perluasan sistem ganjil-genap. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAPetugas kepolisian mengatur lalulintas saat hari pertama penindakan sistem ganjil-genap di kawasan Matraman, Jakarta, Senin (9/9/2019). Petugas kepolisian mulai memberlakukan penindakan berupa tilang terhadap pengendara mobil yang melanggar di kawasan perluasan sistem ganjil-genap. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Aturan pembatasan mobil melalui sistem ganjil genap kembali diterapkan bila Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) di DKI Jakarta rampung pada 4 Juni 2020 nanti.

Namun, ganjil genap akan menjadi masalah lantaran banyak orang yang memilih menggunakan mobil pribadi untuk beraktivitas guna menghindari paparan Covid-19 di transportasi umum.

Apalagi dalam protokol yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) beberapa waktu lalu, menganjurkan masyarakat untuk mengupayakan menggunakan kendaraan pribadi dan tak disarankan naik transportasi umum.

Baca juga: Bagaimana Aturan Ganjil Genap dan Berkendara Saat New Normal?

Ketika menanyakan soal kabar bagaimana kebijakan ganjil genap nantinya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakara Syafrin Liputo mengatakan, untuk sementara ini masih mengikuti skenario awal.

"Sampai sekarang kita masih sama dengan PSBB, jadi selama PSBB ganjil genap tidak diterapkan. Untuk nantinya saat new normal, kami bersama dengan tim gugus tugas masih terus mengkaji akan seperti apa," ujar Syafrin saat dihubungi Kompas.com, Selasa (2/6/2020).

"Keputusannya akan seperti apa, belum bisa diutarakan karena memang masih kajian. Kami juga masih menunggu evaluasi untuk PSBB, apakah ada perkembangan atau diteruskan," kata dia.

Baca juga: Hadapi New Normal, Kebijakan Ganjil Genap Bisa Bermasalah

Lebih lanjut, Syafrin menjelaskan memang selama PSBB yang sudah berjalan hingga tahap tiga saat ini, masyarakat diminta menghindari transportasi umum karena memiliki risiko yang tinggi terhadap penularan Covid-19.

Namun, untuk protokol lalu lintas dan transportasi di saat new normal, kondisinya saat ini menurut Syafrin masih dalam pembahasan yang intensif dan akan diinfokan hasilnya dalam waktu dekat.

Kendaraan bermotor melambat akibat terjebak kemacetan di jalan Jenderal Sudriman, Jakarta Pusat, Kamis (8/8/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk memperluas sistem pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan nomor polisi ganjil dan genap. Sosialisasi perluasan ganjil genap dimulai dari 7 Agustus hingga 8 September 2019. Kemudian, uji coba di ruas jalan tambahan dimulai pada 12 Agustus sampai 6 September 2019.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Kendaraan bermotor melambat akibat terjebak kemacetan di jalan Jenderal Sudriman, Jakarta Pusat, Kamis (8/8/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk memperluas sistem pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan nomor polisi ganjil dan genap. Sosialisasi perluasan ganjil genap dimulai dari 7 Agustus hingga 8 September 2019. Kemudian, uji coba di ruas jalan tambahan dimulai pada 12 Agustus sampai 6 September 2019.

Sebelumnya, Djoko Setijowarno, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, menjelaskan bila ganjil genap akan menjadi masalah bila Pemprov DKI tidak bisa tidak bisa menjamin sarangan transportasi umum yang baik.

"Jika tetap dilaksanakan tapi pemerintah tidak mampu menyediakan ketersediaan angkutan umum yang memadai untuk physical distancing, maka kebijakan ganjil genap potensial dipermasalahkan publik," ucap Djoko beberapa hari lalu.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X