Sopir Angkutan Logistik Berpotensi Jadi Kurir Penyebaran Covid-19

Kompas.com - 23/04/2020, 12:32 WIB
Razia ODOL di Jagorawi Razia ODOL di Jagorawi
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Larangan mudik Lebaran resmi diumumkan oleh Presiden Joko Widodo ( Jokowi). Penerapan ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona ( Covid-19) yang hingga saat tak kunjung tuntas.

Mulai Jumat (24/4/2020), masyarakat tidak akan diperbolehkan keluar dari wilayah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Meskipun jalan tol tetap dibuka, namun nantinya yang boleh melintas hanya angkutan logistik saja.

Namun hal tersebut justru menjadi perhatian baru, pasalnya selama ini kendaraan logistik bebas melintas tanpa tersentuh prosedur atau protokol kesehatan Covid-19.

Baca juga: Banting Harga, Diskon Fortuner Tembus Rp 100 Juta, Innova Rp 70 Juta

Kondisi tersebut menurut Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas menjelaskan, membuat pengendara logistik menjadi kurir baru yang membawa virus corona ke daerah-daerah.

" Angkutan logistik ini dilupakan, tidak tersebut protokol kesehatanya. Hal ini membuat angkutan logistik menjadi media penyebaran virus di daerah, jadi di sisi lain percuma saja, harus diyakinkan larangan mudik dalam rangka memutus mata rantai Covid-19," ucap Darmaningtyas kepada Kompas.com, Rabu (22/4/2020).

Lebih lanjut, Darmaningtyas menjelaskan bila pengumpan busa antarkota antar provinsi (AKAP), baik sopir sampai penumpangnya masih dicek suhu tubuh dan hal lain yang sesuai protokol kesehatan.

Baca juga: PSBB Diperpanjang 28 Hari Lagi, Ini Aturan Berkendara di Jakarta

Mempertanyakan konsistensi Pemerintah Terkait Indonesia Bebas ODOLDjoko Setijowarno Mempertanyakan konsistensi Pemerintah Terkait Indonesia Bebas ODOL

Sementara untuk angkutan logisitik sendiri, tidak ada pengawasannya dan siapa yang melakukan pengecekan. Sebab, bila tidak disama ratakan soal protokol kesehatan, justru pengendara angkutan logisitik berpotensi mennjadi media baru penyebaran Covid-19.

Apalagi dengan kebebasan melintas di semua zona tanap pengecualian. Artinya, akan banyak daerah-derah tertular akibat lalainya pengawasan untuk angkutan logistik.

"Intinya angkutan logistik sampai sekarang kurang pengawasan, dari pelabuhan sampai tujuan akhir. Padahal sopir truk itu paling tidak peduli dengan kesehatan dan keselamatan, mungkin karena masalah pendidikan juga. Secara prosedur berbeda dengan AKAP yang masih menjalankan protokol baik saat mau jalan atau tiba di lokasi," ucap Darmaningtyas.

Dalam konferensi video bersama YLKI, Darmaningtyas juga sempat menyinggung apakan rest area di jalan tol nantinya akan ikut menyiapkan protokol kesehatan bagi para sopir angkutan logistik.

Truk terjaring ODOL di Tol BSD Truk terjaring ODOL di Tol BSD

Baca juga: Polisi Larang Mobil, Motor, dan Angkutan Umum Keluar dari Jadetabek

Sebab bila tidak, maka akan sia-siapa upaya pemerintah melarang mudik untuk kendaraan pribadi dan angkutan umum lainnya bila para sopir truk saja tidak ada pengawasannya.

"Karena kalau misalnya mereka juga menjadi media penyebaran virus, maka mobil penumpang dan lainnya percuma saja dilarang," ucap Darmaningtyas.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X