Tradisi Penyapu Receh di Jembatan Sewo Indramayu, Ini Awal Mulanya

Kompas.com - 01/05/2022, 07:41 WIB
|

INDRAMAYU, KOMPAS.com – Jalur Pantai Utara Jawa alias Pantura begitu lekat dengan tradisi mudik Lebaran. Pasalnya jalur ini merupakan jalan utama buat pemudik dari Jakarta menuju Jawa Tengah ataupun Jawa Timur.

Meskipun Tol Trans Jawa sudah dibangun, jalur Pantura masih jadi favorit sejumlah pemudik. Utamanya pemudik motor, dan kendaraan roda empat atau lebih yang berniat menghindari kemacetan di jalan tol.

Namun terlepas dari hal tersebut, sisi lain dari jalur ini adalah fenomena orang-orang berjejer di pinggir jalan sambil memegang sapu.

Baca juga: Tol Bandung-Jakarta Ditutup, Cek Jalur Alternatif via Jonggol

@wesi.lulut

Makin rame ygy

? Balik Kampung - Upin & Ipin

Bukan untuk membersihkan jalan, mereka menyapu uang yang dilempar para pelintas dari tengah ke pinggir jalan, sebagai bagian tradisi.

Sebagai informasi, jika pengendara menempuh perjalanan di jalur Pantura Jawa dan melihat jembatan di perbatasan Subang-Indramayu Jawa Barat yang ditongkrongi banyak orang.

Artinya, pengendara telah sampai di atas Jembatan Sewo. Di lokasi inilah, orang-orang tersebut memperhatikan dan mengawasi setiap kendaraan yang lewat.

Baca juga: Suzuki Kenalkan Escudo Bermesin Hybrid, Dijual Mulai Rp 300 Jutaan

Manakala pengendara melempar uang receh di sekitar Jembatan Sewo. Mereka bakal beraksi memperebutkan uang tersebut dengan sapu.

Yuzar Purnama, dalam Mitologi Saedah Saenih, Cerita Rakyat dari Indramayu (2016) yang diterbikan jurnal Patanjala menyebutkan, mitos dari kisah Saedah Saenih jadi alasan utama terbentuknya tradisi mengais uang di jembatan Kali Sewo, Indramayu.

Kisah tersebut tentunya melegenda bagi masyarakat Indramayu, khususnya yang tinggal di sekitar kali Sewo, Indramayu.

Baca juga: 3 Perilaku Pemudik yang Bikin Arus Tersendat Saat Penerapan One Way

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh ANTARA Foto (@antarafotocom)

Mereka berkeyakinan bahwa Ki Sarkawi beserta istrinya, Maimunah, yang menjadi orang tua Saedah dan Saenih masih bersemayam di kali Sewo, dan menjadi penghuni kali tersebut.

Maka dari itu, masyarakatnya meminta koin agar para pelintas dapat melalui jembatan Sewo dengan aman.

Mereka kerap kali juga mengaitkan mitologi tersebut dengan kecelakaan tragis yang terjadi pada 11 Maret 1974.

Kecelakaan tersebut mengakibatkan satu unit bus terguling ke dasar sungai, kemudian menewaskan sekitar 67 orang penumpangnya, dan hanya menyisakan 3 orang anak yang selamat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.