Realisasi Populasi Kendaraan Listrik di Indonesia Masih Jauh

Kompas.com - 23/11/2022, 18:21 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Dewasa ini pemerintah RI tengah mendorong penciptaan ekosistem industri atas kendaraan listrik karena dipercaya menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengurangi emisi gas buang dan konsumsi bahan bakar fosil.

Apalagi, Indonesia memiliki sumber daya alam berupa nikel yang menjadi bahan baku penting dalam komponen terpenting kendaraan listrik, yakni baterai. Tapi, pertumbuhan jenis moda tersebut kini masih jauh dari harapan.

Pasalnya sebagaimana dikatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Arifin Tasrif, target kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di 2030 ialah sebesar 15 jutaan.

Baca juga: Yamaha Dipastikan Tanpa Tim Satelit MotoGP Sampai 2024

Ilustrasi kendaraan listrik.(Dok. Shutterstock/ BigPixel Photo) Ilustrasi kendaraan listrik.

Jumlah itu terdiri dari 2.197.780 unit mobil listrik dan 13.469.000 unit kendaraan roda dua listrik. Dengan angka tersebut, Indonesia akan bisa menghemat BBM sebesar 8,1 juta kilo liter dan pengurangan emisi CO2 sebesar 17,6 juta ton.

Namun per-17 November 2022 jumlah KBLBB di dalam negeri baru berjumlah 33.810 unit, yang terbagi sekitar 7.000 unit mobil penumpang dan 25.782 unit sepeda motor listrik.

"Sampai dengan 17 November 2022 terdapat 33.810 unit KBLBB dan jumlah sepeda motor yang telah konversi sejumlah 128 unit," kata Arifin dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (21/11/2022).

Adapun jumlah kendaraan roda tiga sebanyak 285 unit, bus dengan total 58 unit, dan mobil barang sebanyak 6 unit.

Meski demikian, dalam sisi industri kini pembangunan pabrik yang diproyeksikan bisa mendukung sektor hulu-hilir kendaraan listrik sudah berjalan.

Saat ini sedikitnya ada dua pabrik komponen baterai kendaraan listrik yang beroperasi di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah.

Baca juga: Toyota Masih Komitmen Investasi di Indonesia Rp 28,3 Triliun

Produksi Toyota Kijang Innova Hybrid di pabrik Karawang, Jawa Barat. Toyota/TMMIN Produksi Toyota Kijang Innova Hybrid di pabrik Karawang, Jawa Barat.

CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus mengatakan, dua pabrik itu ialah milik PT Huayue Nickel Cobalt dan PT QMB New Energy Material.

Adapun PT Huayue Nickel Cobalt memiliki kapasitas produksi katoda 70.000 ton nikel kobalt (Ni-Co) per tahun dan PT QMB New Energy Material memiliki kapasitas 50.000 ton nikel sulfida dan nikel kobalt (Ni-Co) per tahun.

Sementara dari sisi produksi kendaraan, tercatat sudah ada tiga pabrikan yang sudah melakukannya, yaitu Hyundai dengan Ioniq 5, Wuling dengan Air EV dan Almaz Hybrid, serta Toyota melalui Kijang Innova Zenix Hybrid.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.