Butuh Pendidikan buat Menciptakan Sopir Truk yang Kompeten

Kompas.com - 02/02/2022, 20:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Salah satu penyebab dari kecelakaan truk di jalan raya adalah human error atau kesalahan pengemudinya. Oleh karena itu, pengemudi truk seharusnya kompeten, bukan cuma bisa mengemudikan saja.

Untuk menghasilkan pengemudi truk yang kompeten, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi di Indonesia, fenomena kernet naik pangkat jadi pengemudi truk sudah sering terjadi.

Elias C. Medellu, Ketua Harian Perkumpulan Pengemudi Profesi Nusantara mengatakan, kecelakaan yang melibatkan truk ini akan terus terjadi jika tidak ada perbaikan mutu atau kompetensi pengemudi.

Baca juga: Truk ODOL Merupakan Kejahatan Lalu Lintas

Pengemudi truk kontainer menunggu giliran untuk melajukan kendaraanya di areaJakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (11/6/2021). KOMPAS.com/DJATI WALUYO Pengemudi truk kontainer menunggu giliran untuk melajukan kendaraanya di areaJakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (11/6/2021).

“Bukan pembinaan yang dibutuhkan, tapi pendidikan ulang yang sistematis. Kemudian pengemudi diuji untuk menyaring yang tidak kompeten,” ucap Elias kepada Kompas.com, belum lama ini.

Menurutnya, melakukan pendidikan ulang yang sistematis bisa menggugurkan 30 persen pengemudi truk yang tidak kompeten. Memang hal ini akan mengurangi jumlah pengemudi truk di jalanan, tapi setimpal dengan tujuannya mengurangi angka kecelakaan.

Pendidikan ulang di sini maksudnya adalah pengemudi diberi bekal mulai dari teori nya dahulu. Mengingat soal skill, pengemudi truk di Indonesia bisa dibilang sudah tidak ada tandingannya.

Baca juga: Kasus 7 Bus Pariwisata Diajak Off Road, Ini Pentingnya Ketahui Jalan

“Bayangkan dengan kondisi stress takut kepergok petugas, dengan ongkos yang rendah tapi mampu menembus keramaian di kota besar tanpa kejadian apa-apa,” kata Elias.

Tapi masalahnya akan muncul kalau sudah ke luar kota, keselamatan hanya bergantung pada unsur “hafal medan”, bukan karena baca dan paham rambu-rambu. Jadi bisa dibilang mereka ini tidak pernah terdidik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.