Leasing Dapat Berkah dari Insentif PPnBM dan IIMS 2021

Kompas.com - 10/06/2021, 13:41 WIB
Mandiri Utama FInance (MUF). Ghulam/KompasOtomotifMandiri Utama FInance (MUF).

BANDUNG, KOMPAS.com - Insentif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) genjot pendapatan perusahaan pembiayaan seperti Mandiri Tunas Finance.

"Hingga Mei 2021, profit kami Rp 83 miliar, melebihi 150 persen dari target," ujar Direktur Mandiri Tunas Finance, William Francis kepada Kompas.com di Bandung, Rabu (9/6/2021).

Baca juga: Tanggapan PO Bus Soal Pengamen dan Pedagang Asongan Masuk ke Kabin

William menjelaskan, peningkatan pendapatan tersebut didorong berbagai hal. Salah satunya pemberlakuan insentif PPnBM.

Pada Maret 2021, insentif PPnBM mulai membuat kenaikan transaksi. Puncaknya pada bulan April 2021, orang banyak yang membeli mobil.

Kemudian pada Mei 2021 terjadi perlambatan. Hal ini karena kendala sejumlah sparepart untuk produksi mobil yang membuat pengiriman mobil terlambat.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Fungsi Lain Lampu Kabin Bus, Jadi Kode Pengemudi ke Penumpang Saat Ada Copet

"Sebelum delivery kami belum boleh (cairkan pembiayaan)," tutur William.

Ilustrasi konsumen tengah melakukan transaksi di pameran otomotif.Foto: Dyandra Ilustrasi konsumen tengah melakukan transaksi di pameran otomotif.

Untuk meningkatkan kinerja di masa pandemi, berbagai strategi dilakukan. Salah satunya mendukung acara pameran seperti penyelenggaraan International Indonesia Motor Show (IIMS) Hybrid 2021.

Baca juga: Mobil Sport Mungil Honda Nongkrong di Dreams Cafe Senayan

"Kami menjadi sponsor utama di IIMS kemarin," tambah William.

Dengan perolehan positif Januari-Mei 2021, ia berharap kinerja tahun ini jauh lebih baik dibanding tahun lalu. Target profit Rp 250 miliar tahun ini bisa tercapai.

Restrukturasi

Sementara itu, Presiden Director MTF, Pinohadi G Sumardi mengatakan, kinerja tahun lalu terbilang berat. Bahkan yang mengajukan restrukturisasi mencapai 80.000 nasabah atau 30 persennya dari total nasabah.

Baca juga: Adu Interior Honda Brio RS dan Daihatsu Sirion, Mana Lebih Mewah?

Dari 80.000 nasabah tersebut, nilai restrukturisasinya mencapai Rp 13,8 triliun. Dari jumlah itu, 92 persennya sudah terbayar.

Adapun yang mengajukan restrukturisasi ulang hanya sedikit. Itu terjadi di daerah yang ekonominya belum kembali pulih akibat pandemi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X