Kompas.com - 01/05/2021, 11:22 WIB
Kecelakaan beruntun terjadi di Jalan Tol Cawang-Grogol, tepatnya di Km 06 Layang Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2020) sekitar pukul 11.20 WIB. Dok. TMC Polda Metro JayaKecelakaan beruntun terjadi di Jalan Tol Cawang-Grogol, tepatnya di Km 06 Layang Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2020) sekitar pukul 11.20 WIB.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kejadian tabrakan beruntun makin sering mengemuka. Terakhir terjadi di jalan Tol Ancol Pelabuhan, Jumat (30/4/2021).

Kecelakaan yang terjadi di lajur kanan tol tersebut setidaknya melibatkan lima kendaraan. Dalam rekaman yang diunggah oleh akun instagram @dashcamindonesia terlihat beberapa mobil itu mengalami ringsek akibat tabrakan beruntun tersebut.

Biasanya insiden ini terjadi karena tidak adanya jarak pengereman aman di antara mobil,

Ketika ada mobil yang tiba-tiba melakukan pengereman, mobl di belakangnya tidak siap. Oleh sebab itu, sejumlah pengendara harus lebih waspada terutama saat berada di lajur kanan.

Baca juga: Cerita Daihatsu Rocky Nikmati PPnBM dan Alasan Baru Meluncur

Training Director Safety Defensive Consultant Sony Susmana mengatakan, banyak sekali masyarakat yang sudah tahu bahwa lajur kanan merupakan lajur yang paling berbahaya, namun mereka tidak peduli.

“Kenapa berbahaya? Lajur kanan itu merupakan yang paling cepat laju kendaraannya. Biasanya saling mendahului pada lajur kanan, sehingga jarang yang menjaga jarak,” ujar Sony saat dihubungi Kompas.com, Jumat (30/4/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Dashcam Indonesia (@dashcamindonesia)

Sony melanjutkan, untuk menghindari tabrakan beruntun, pengemudi bisa melakukan emergency braking.

“Emergency braking dilakukan dengan cara mengerem sambil membanting setir ke kanan atau kiri, namun dengan catatan tersedia ruang yang aman buat mobil,” katanya.

Langkah tersebut merupakan pilihan terakhir ketika ruang yang tersedia di depannya benar-benar terbatas atau mepet.

“Tapi perlu diingat hal ini temporary, kemungkinan berhasilnya kecil karena harus didukung oleh skill pengemudi,” kata Sony.

Baca juga: Bahas Desain Toyota Raize, Berkelas Tanpa Krom Berlebih

Selain itu, menurut Sony, mobil juga harus memiliki fungsi rem yang baik, sehingga selalu sigap saat dibutuhkan. Tidak ada gejala rem kurang pakem. Hal ini juga harus didukung dengan kondisi fisik pengemudi yang prima, sehingga reaksinya tepat waktu.

“Jadi lebih baik kalau pengemudi melakukan antisipasi dengan jaga kecepatan dan jarak aman. Sehingga tidak perlu melakukan emergency braking,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X