Truk ODOL Jadi Kendala Pembenahan Transportasi Darat

Kompas.com - 25/08/2020, 07:12 WIB
Foto karya Kristianto Purnomo berjudul Kecelakaan Bus Asli Prima ini meraih juara II kategori spot news di ajang Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2019. Foto di ambil pada Minggu (13/01/2019) menampilkan korban kecelakaan antara Bus Asli Prima dan sebuah truk. KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOFoto karya Kristianto Purnomo berjudul Kecelakaan Bus Asli Prima ini meraih juara II kategori spot news di ajang Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2019. Foto di ambil pada Minggu (13/01/2019) menampilkan korban kecelakaan antara Bus Asli Prima dan sebuah truk.
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) menyebutkan bahwa pembenahan sektor transportasi darat dapat mendorong roda perekonomian di tengah pandemi Covid-19.

Namun beberapa hal masih menjadi pekerjaan rumah, salah satu permasalahan yang belum bisa diatasi secara menyeluruh, yaitu truk ODOL (over dimension over loading) atau truk kelebihan muatan.

Budi Setiyadi, Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, mengatakan, truk kelebihan muatan merusak jalan dan membahayakan pengguna jalan lainnya. Tak heran jika truk ODOL dinilai merugikan masyarakat.

Baca juga: KTM Kehilangan Status Konsesi, Apa Artinya?

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi lakukan pemotongan truk yang kelebihan muatan, Bekasi, Jawa Barat, Senin (30/9/2019)KOMPAS.com/Ruly Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi lakukan pemotongan truk yang kelebihan muatan, Bekasi, Jawa Barat, Senin (30/9/2019)

“Ini menunjukkan bahwa ada sebagian dari kita lebih mengutamakan kepentingan sendiri, kurang aware ke kepentingan orang banyak,” ujar Budi, dalam webinar yang disiarkan Youtube Kemenhub (19/8/2020).

“Di sini aspek ekonomi, kerusakan jalan, juga menyangkut masalah harga dan sebagainya, ini menjadi persoalan,” katanya.

Menurut Budi, di samping masalah truk ODOL, infrastruktur yang belum merata juga menjadi kendala pembenahan sektor transportasi darat.

Baca juga: Kenapa Pebalap MotoGP Menurunkan Kakinya Saat Akan Menikung?

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (paling kanan, baju putih memakai topi) saat meninjau uji coba bersama dengan PT Jasa Marga, Ditjen Hubdat dan Kepolisian di jembatan timbang Weigh-In-Motion (WIM) di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 9 pada Minggu (22/9/2019)DOKUMENTASI KEMENHUB Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (paling kanan, baju putih memakai topi) saat meninjau uji coba bersama dengan PT Jasa Marga, Ditjen Hubdat dan Kepolisian di jembatan timbang Weigh-In-Motion (WIM) di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 9 pada Minggu (22/9/2019)

Sebagai contoh, di beberapa daerah masih banyak anak-anak yang kesulitan untuk berangkat ke sekolah. Entah itu karena akses yang sulit karena tidak ada jembatan dan sebagainya, ataupun karena alat transportasi yang kurang memadai.

Selain itu, jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat juga harus dibarengi dengan ketaatan pengemudi dengan aturan yang berlaku. Budi menambahkan, ramainya kepadatan lalu lintas ternyata membuat ego masyarakat makin tinggi.

“Jadi ke depan saya kira untuk membangun satu sistem transportasi yang baik, juga harus mengedukasi masyarakat terhadap kebersamaannya dan juga mungkin kesatuannya di jalan-jalan raya,” ucap Budi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X