Cara Efektif Mengurangi Angka Kecelakaan Bus

Kompas.com - 25/08/2020, 10:02 WIB
Kecelakaan bus Sriwijaya yang jatuh ke jurang di Liku Lematang, Desa Prahu Dipo, Kecamatan Dempo Tengah, kota Pagaralam, pada Senin (24/12/2019), menyebabkan 35 orang penumpang tewas, sementara 13 lainnya luka-luka. HANDOUT/SAR PALEMBANGKecelakaan bus Sriwijaya yang jatuh ke jurang di Liku Lematang, Desa Prahu Dipo, Kecamatan Dempo Tengah, kota Pagaralam, pada Senin (24/12/2019), menyebabkan 35 orang penumpang tewas, sementara 13 lainnya luka-luka.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kecelakaan yang melibatkan kendaraan berat seperti bus masih saja terjadi di jalan raya. Masih sering terlihat pengemudi yang melanggar aturan seperti menyalip dari kiri maupun kebut-kebutan.

Padahal pengemudi bus harus menjaga keselamatan dari para penumpangnya. Kesadaran pengemudi bus akan keselamatan dan aturan yang ada masih kurang, sehingga masih sering ditemui pengemudi yang ugal di jalanan.

Sekretaris Jenderal Paguyuban Pengemudi – Pengusaha Mitra Polri (P3MP), Elias C. Medellu mengatakan, pengemudi di Indonesia tidak dianggap sebagai profesi formal, sehingga pembinaan hanya dilakukan beberapa instansi dan tidak terstruktur.

Baca juga: Kenapa Pebalap MotoGP Menurunkan Kakinya Saat Akan Menikung?

Kecelakaan di Tol Cipali KM 150+300 Majalengka, Jawa Barat, Minggu (23/8/2020). Kecelakaan tersebut 4 orang meninggal dunia dan 10 luka-luka.Istimewa Kecelakaan di Tol Cipali KM 150+300 Majalengka, Jawa Barat, Minggu (23/8/2020). Kecelakaan tersebut 4 orang meninggal dunia dan 10 luka-luka.

“Saya meyakini bahwa mayoritas pengemudi profesi tidak pernah mendapatkan pendidikan resmi untuk berlalu-lintas. Pengetahuan berlalu-lintas hanya mereka dapatkan dari sesama pelaku profesi (mentor),” ucap Elias kepada Kompas.com, Senin (24/8/2020).

Karena masih dianggap sebagai profesi yang tidak formal, butuh adanya wadah profesi. Elias menjelaskan, dengan adanya wadah profesi, fungsi kendali dan standarisasi profesionalisme pengemudi akan terbentuk, sehingga melahirkan pengemudi yang berkeselamatan.

“Wadah profesi bagi pengemudi akan meningkatkan dari sekadar kompetensi menjadi profesionalisme,” kata Elias.

Baca juga: Jangan Norak, Pakai Lampu Hazard Saat Berjalan Lurus di Persimpangan!

Kemudian, untuk menekan angka kecelakaan bisa dengan pembinaan yang terprogram dan terstruktur dari pemerintah melalui wadah profesi kepada anggotanya. Karena, mayoritas pengemudi tidak pernah terdidik atau terbina sejak awal.

“Masalah kemahiran, pengemudi di Indonesia sangat luar biasa. Namun terkait pemahaman aturan dan karakter profesionalisme sangat payah. Bahkan saya yakin mereka tidak melalui sekolah mengemudi manapun,” kata dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X