Pakai BBM Oktan Tinggi, Benarkah Bikin Performa Meningkat?

Kompas.com - 07/07/2020, 16:21 WIB
Pertamax Turbo KOMPAS.com/RulyPertamax Turbo
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Sejumlah pemilik kendaraan tak sedikit yang mengisi BBM kendaraan dengan oktan yang lebih tinggi untuk mendapatkan performa lebih baik.

Misalnya untuk kendaraan yang dianjurkan menggunakan BBM RON 90 atau 92, tapi malah diisi dengan BBM RON 95 bahkan 98.

Beberapa orang mengaku performa mesin terasa lebih baik. Padahal dalam jangka panjang, kegiatan seperti ini bisa berakibat pada penurunan performa. Seperti konsumsi BBM yang lebih boros, sampai emisi gas buang yang lebih tinggi.

Baca juga: Cegah Tikus Bolak-balik Masuk Ruang Mesin Mobil

General Manager PT Pertamina (Persero) MOR 1 Erry Widiastono KOMPAS.com / Mei Leandha General Manager PT Pertamina (Persero) MOR 1 Erry Widiastono

Endro Sutarno, Technical Service Division PT Astra Honda Motor, mengatakan, pemilik kendaraan bermotor harus menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan.

“Kalau nilai oktan lebih tinggi, maka bahan bakarnya tidak akan terbakar dengan sempurna,” ujar Endro, dalam diskusi virtual belum lama ini.

Menurutnya, pembakaran yang tidak sempurna dapat menyebabkan kerak di dinding mesin dan membuat karbon yang menumpuk lebih banyak.

Baca juga: Dimensi Lebih Besar dan Mesin Baru, Begini Wujud Honda HR-V 2021

Ilustrasi gas buang kendaraanwww.autoevolution.com Ilustrasi gas buang kendaraan

“Performa mesin akan berkurang, yang jelas bisa menyebabkan emisi tidak sesuai yang diharapkan,” ucap Endro.

Menurunnya performa mesin saat menggunakan BBM dengan oktan tinggi tak hanya dialami sepeda motor, tapi juga bisa terjadi di mobil.

Nurkholis, National Technical Leader PT Toyota Astra Motor, mengatakan, pembakaran tidak akan sempurna jika nilai oktan yang terkandung di dalam BBM, tidak sesuai dengan direkomendasi produsen.

Baca juga: Banderol MPV Murah Stabil di Juli 2020

Kapasitas tangki BBM tiap mobil berbeda-bedadrivespark.com Kapasitas tangki BBM tiap mobil berbeda-beda

“Kalau tidak terbakar secara sempurna, maka akan ada sisa-sisa partikel yang tidak habis terbakar,” kata Nur.

“Sisa pembakaran itu akan berefek pada emisinya, sensornya tertutup kerak dan lain sebagainya,” tuturnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X