IKM Otomotif Mulai Merasakan Dampak Virus Corona

Kompas.com - 19/03/2020, 07:42 WIB
Pekerja merakit mobil pick up di Pabrik Mobil Esemka, Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019). Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik mobil PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) untuk mulai beroperasi memproduksi mobil. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot NugrohoPekerja merakit mobil pick up di Pabrik Mobil Esemka, Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019). Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik mobil PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) untuk mulai beroperasi memproduksi mobil. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Perindustrian ( Kemenperin) berupaya untuk mendorong industri di dalam negeri agar tetap berproduksi secara optimal di tengah ancaman wabah virus corona (Covid-19).

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih menyatakan, hal tersebut agar industri terkait masih bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga ekspor.

Adapun langkah strategis yang tengah dilaksanakan untuk menjaga stabilitas industri nasional, termasuk sektor otomotif, adalah memastikan ketersediaan bahan baku. Terutama bagi industri kecil dan menengah (IKM), karena dampak virus corona mulai terasa.

Baca juga: Cegah Corona, Tips Aman Naik Transportasi Umum

Mobil-mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, saat tiba di dermaga Car Terminal,  Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Mobil-mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, saat tiba di dermaga Car Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.

"Kami bertekad untuk semakin memacu geliat dari pelaku IKM supaya kinerja mereka bisa kembali pulih, tanpa mengecilkan industri lain," kata Gati di keterangan tertulis, Jakarta, Rabu (18/3/2020).

"Saat ini beberapa produsen di China sudah mulai beroperasi. Maka, momentum ini harus jadi titik balik untuk mulai meningkatkan produksi. Bahkan, kami berharap kegiatan ekspor IKM juga kembali normal," lanjut dia.

Pada kesempatan terpisah, Sekertaris Jenderal (Sekjen) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono menyebut bahwa bahan baku dari China kini sudah kembali masuk Indonesia walau belum maksimal.

"Sebagian sudah masuk seperti tekstil, logam, dan permesinan meski dalam jumlah terbatas," katanya.

Baca juga: Penjualan Mobil Turun, Kemenperin Singgung Dampak Virus Corona

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto di Jakarta, Jumat (13/3/2020).KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIA Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto di Jakarta, Jumat (13/3/2020).

Angkanya pun bervariasi, mulai 20 persen sampai 40 persen pada tiap kebutuhan bahan baku. Lalu, untuk memudahkan prosedur impor, pemerintah juga telah mengeluarkan stimulis bagi sektor industri manufaktur tanah air.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang sebelumnya menyatakan, stimulus tersebut berupa relaksasi Pajak Penghasilan Pasal 22 (PPh 22) Impor. Pembebasan diberikan kepada 19 sektor tertentu selama enam bulan ke depan, terhitung mulai April 2020.

Adapun daftar 19 sektor manufaktur yang dapat relaksasi untuk impor bahan baku adalah, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, industri alat angkutan lainnya, industri makanan, industri logam dasar, industri kertas dan barang dari kertas, industri minuman, industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional, serta industri kendaraan bermotor, trailer, dan semitrailer.

Selanjutnya, industri karet, barang dari karet, dan plastik, industri barang galian bukan logam, industri pakaian jadi, industri peralatan listrik, industri tekstil, industri mesin dan perlengkapan YTDL, industri barang logam, bukan mesin, dan peralatannya, industri percetakan dan reproduksi media rekaman, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, industri furnitur, serta industri komputer, barang elektronik, dan listrik.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X