Kompas.com - 24/08/2020, 20:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Baru saja terjadi kecelakaan di Tol Cipali yang disebabkan bus Widia menabrak truk yang sedang diam di bahu jalan. Dari kecelakaan tersebut, terdapat empat orang tewas dan 11 lainnya mengalami luka-luka.

Penumpang yang tidak bersalah tentunya dirugikan dengan adanya kecelakaan ini. Pengemudi juga seharusnya sadar akan keselamatan penumpang, dirinya sendiri, kendaraannya, dan pengguna jalan lain sehingga menyetir dengan aman.

Lalu, apa yang bisa dilakukan penumpang jika telanjur menaiki bus dengan perilaku pengemudi yang ugal-ugalan, bahkan membahayakan?

Baca juga: Kenapa Pebalap MotoGP Menurunkan Kakinya Saat Akan Menikung?

Kecelakaan di Tol Cipali KM 150+300 Majalengka, Jawa Barat, Minggu (23/8/2020). Kecelakaan tersebut 4 orang meninggal dunia dan 10 luka-luka.Istimewa Kecelakaan di Tol Cipali KM 150+300 Majalengka, Jawa Barat, Minggu (23/8/2020). Kecelakaan tersebut 4 orang meninggal dunia dan 10 luka-luka.

Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu mengatakan, penumpang bisa melakukan protes jika melihat perilaku pengemudi bus yang tidak aman.

“Penumpang langsung protes, lalu minta bus untuk berhenti, kemudian digebuk pengemudinya. Karena itu menyangkut keselamatan mereka, jangan dibiarkan,” ucap Jusri kepada Kompas.com, Senin (24/8/2020).

Namun, masalahnya ada dua, karena penumpang tidak tahu dan tidak berani untuk melakukan protes. Sedangkan kalau di luar negeri, misalnya Australia, sudah ada sosialisasi bagaimana harus bersikap ketika menemukan perilaku pengemudi yang tidak benar.

Baca juga: Hasil MotoGP Styria, Drama Tikungan Terakhir Miguel Oliveira Juara

“Jadi pemerintah, media, dan lembaga konsumen di sana selalu menginformasikan tentang bus-bus yang direkomendasikan berdasarkan performa keselamatan mereka,” kata Jusri.

Jusri mengatakan, apa yang bisa dilakukan oleh penumpang yaitu merekam tindakan berbahaya yang dilakukan pengemudi. Kemudian pengemudi diberi tahu, walaupun bisa menyebabkan konflik, pilihan terakhir yaitu minta berhenti dan turun dari bus.

“Dengan bukti-bukti tadi sudah cukup untuk membuat tindakan hukum dilakukan, masa mau pilihan hidup kita ada pada pengemudi yang berbahaya,” kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.