JAKARTA, KOMPAS.com – Produsen otomotif asal Tiongkok, BAIC, masih menempatkan mobil hybrid sebagai strategi utama di Indonesia.
Meski tren kendaraan listrik (EV) terus berkembang, BAIC menilai teknologi hybrid lebih realistis untuk pasar yang masih dalam tahap transisi menuju elektrifikasi.
CEO BAIC Indonesia, Dhani Yahya, menjelaskan bahwa adopsi EV di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan infrastruktur pengisian daya.
Baca juga: Diikuti 21 Komunitas, Daihatsu Kembali Gelar Mudik Bersama 2025
Oleh karena itu, hybrid dianggap sebagai solusi yang lebih fleksibel.
"Hybrid menjadi jembatan sebelum transisi penuh ke EV. Konsumen tetap mendapat efisiensi energi tanpa khawatir soal pengisian daya, terutama untuk perjalanan jarak jauh," ujar Dhani di Jakarta Selatan belum lama ini.
Sejalan dengan strategi tersebut, BAIC menyiapkan empat model baru yang akan meluncur sepanjang 2025.
Baca juga: Oknum TNI AL Bunuh Wartawan di Kalsel, Keluarga Juwita: Jangan Ada yang Ditutupi!
Dari keempat model tersebut, tiga di antaranya merupakan hybrid, sementara satu lainnya menggunakan mesin bensin.
Model-model tersebut adalah BJ30 HEV, BJ41 PHEV, BJ60 PHEV, dan BJ80.
Peluncurannya akan dilakukan secara bertahap, dimulai pada Juli 2025, dengan dua model pertama akan diperkenalkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025.
Saat ini, BAIC baru menawarkan dua model di Indonesia, yakni BJ40 Plus dan X55-II, dengan BJ40 Plus menyumbang 90% dari total penjualan.
Baca juga: Mudik Lebaran 2025, Ini Waktu yang Tepat untuk Servis Mobil
Pemerintah sendiri telah memberikan insentif berupa pengurangan PPN 3% untuk mobil hybrid.
Namun, pangsa pasar kendaraan elektrifikasi masih sekitar 7% dari total industri otomotif.
Menurut Dhani, tambahan stimulus, seperti pemangkasan PPN yang lebih besar, dapat mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan.
Baca juga: Komisi X Dukung Mendikdasmen Soal Study Tour: Kalau Dilarang Merugikan Siswa
Di sisi lain, BAIC juga melihat kondisi pasar otomotif yang masih dalam fase pemulihan.
Tahun lalu, penjualan mobil di Indonesia turun 16% menjadi 865 ribu unit.