Pelatihan Safety Riding Belum Dianggap Penting di Indonesia

Kompas.com - 27/12/2021, 18:21 WIB
Harley Owners Group (H.O.G) Anak Elang Jakarta Chapter menggelar Motorcycle Safety Riding Training HOG Anak ElangHarley Owners Group (H.O.G) Anak Elang Jakarta Chapter menggelar Motorcycle Safety Riding Training
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Di berbagai negara, pelatihan mengenai safety riding baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat kerap dilakukan. Sedangkan di Indonesia, pelatihan safety riding kebanyakan hanya dilakukan oleh komunitas dan juga beberapa perusahaan multinasional untuk anggotanya saja.

Menanggapi mengenai pentingnya pelatihan safety riding di Indonesia, Jusri Palubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) mengatakan, saat ini belum ada kompetensi khusus mengenai keterampilan mengemudi di Indonesia.

Baca juga: Pertalite dan Premium Dihapus, Apakah BBM Oktan Tinggi Cocok untuk Semua Kendaraan?

"Bahwasanya saat mengemudi motor atau mobil, mayoritas dari masyarakat pengguna kendaraan bermotor di Indonesia sampai level terampil itu diperoleh dari pengalaman saja, yang berangkat dari kebiasaan," kata jusri kepada Kompas.com, Minggu (16/12/2021).

Menurut Jusri, keterampilan yang diperoleh hanya sebatas technical skill (Hard skill) yang dipelajari tanpa basis metode belajar-mengajar yang memiliki kurikulum khusus.

Kondisi arus lalu lintas di Jalan Raya Puncak Bogor, Jawa Barat, Minggu (26/12/2021).KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Kondisi arus lalu lintas di Jalan Raya Puncak Bogor, Jawa Barat, Minggu (26/12/2021).

"Jadi kalau kita lihat semacam ini, sebenarnya tidak ideal. Padahal ketika kita di jalan raya, kita tidak hanya memerlukan keterampilan tetapi kita memerlukan ketertiban, etika, empati, dan juga kewaspadaan yang itu tidak ada kaitannya dengan keterampilan teknikal tadi," ucapnya.

Karena etika, ketertiban, empati dan lain sebagainya (soft skill) dibutuhkan pengetahuan sehingga pengendara sadar akan hal tersebut.

Baca juga: PO Gunung Harta Buka Trayek Baru dengan Bus Double Decker

"Soft skill ini harusnya menjadi perlengkapan bagi pengemudi maupun pengendara yang ada di jalan raya karena jalan raya adalah sebuah ruang publik," kata dia.

"Jadi kalau ditanya perlukah pelatihan, perlu sekali. Ada dua hal yang perlu, pertama adalah technical skill yang menyangkut keterampilan dan pengetahuan yang bertujuan membangun kemampuan kognitif (soft skill)," imbuhnya.

Kemampuan kognitif berguna untuk menghindari emosi di jalan. Pengkajian risiko ini seperti, jika dalam kondisi mabuk atau mengantuk tidak akan mengemudi, jika tidak antre akan terjadi kemacetan, serta tidak melakuakan tindakan yang dapat menimbulkan konflik dan lain sebagainya.

Peserta uji Surat Izin Mengemudi (SIM) sedang melakukan uji praktik di Satpas SIM, Daan Mogot, Jakarta Barat, Rabu (24/11/2021).Kompas.com/MITA AMALIA HAPSARI Peserta uji Surat Izin Mengemudi (SIM) sedang melakukan uji praktik di Satpas SIM, Daan Mogot, Jakarta Barat, Rabu (24/11/2021).

"Sayangnya di sini (Indonesia) infrastrukturnya belum ada, kedua metode ajar-mengajarnya pun juga belum ada kurikulum yang pasti," ucap Jusri.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.