Motor Nekat Terobos Lampu Merah, Berujung Tabrak Bus TransJakarta

Kompas.com - 03/08/2021, 18:41 WIB
Tampak tanda jarak fisik pengendara seperti starting Grid di Moto GP dibuat di ruang henti khusus (RHK) Jalan Merdeka, Kota Bandung, Kamis (16/7/2020). Polda Janar membuat tanda ini do 159 di 22 Kota/Kabupaten di wilayah Polda Jabar, sebagai salah satu upaya penerapan protokol kesehatan di Jalanan. KOMPAS.COM/AGIE PERMADITampak tanda jarak fisik pengendara seperti starting Grid di Moto GP dibuat di ruang henti khusus (RHK) Jalan Merdeka, Kota Bandung, Kamis (16/7/2020). Polda Janar membuat tanda ini do 159 di 22 Kota/Kabupaten di wilayah Polda Jabar, sebagai salah satu upaya penerapan protokol kesehatan di Jalanan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Masih banyak pengguna jalan di Indonesia yang tidak tertib dengan aturan, apalagi jika tidak ada yang mengawasi seperti misalnya polisi.

Banyak pengemudi atau pengguna sepeda motor yang hanya bisa mengendarai kendaraannya, namun tidak mengerti dari adanya peraturan yang dibuat.

Seperti contoh video yang baru saja diunggah oleh akun instagram Dashcam Indonesia. Dalam rekaman tersebut, terlihat pengendara sepede motor yang nekat menerobos lampu merah di kawasa Patung Kuda, Jakarta Pusat.

Baca juga: Harga Motor Bebek Agustus 2021, Yamaha Jupiter Z1 Mulai Naik

Di waktu yang bersamaan, sebuah bus Transjakarta melaju dari arah lainnya. Alhasil tabrakan pun tak dapat dihindari.

Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, kurangnya edukasi tentang aturan yang ada membuat pengguna jalan hanya tertib jika ada Polisi yang mengawasi di jalan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Berbeda dengan negara lain, diberikan pelatihan tentang aturan yang dibuat. Jadi mereka mengerti kalau aturan dibuat bukan sekedar untuk mengatur, tapi ada kepentingan bersama jika tertib aturan,” ucap Jusri belum lama ini kepada Kompas.com.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Dashcam Indonesia (@dashcamindonesia)

Menurut Jusri, masyarakat Indonesia sebenarnya tahu adanya aturan, namun edukasi soal aturan itu sendiri masih kurang. Sehingga orang Indonesia menganggap aturan hanya berlaku jika ada polisi di sekitarnya.

“Jalan raya adalah ruang publik dengan segala komponennya yang sangat beragam. Semua karakter dari manusia ada di jalan raya. Kalau tidak tertib akan mudah terjadi konflik seperti tabrakan,” katanya.

Baca juga: Kontes Digimodz IMX 2021 Menciptakan Ide Bermanfaat Bagi Masyarakat

Jika menilik dari kacamata hukum, perilaku menerobos lampu merah jelas melanggar aturan lalu lintas.

Hal tersebut sudah dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Lebih detail pada Pasal 287 ayat 2, terdapat sanksi bagi pelanggar lampu merah. Pasal tersebut berbunyi:

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Alat Pemeberi Isyarat Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf c dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah).”



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.