Waspada, Kelemahan Sopir Truk di Jalan Berkabut

Kompas.com - 09/02/2021, 10:22 WIB
Wartawan berkesempatan mengemudikan truk Volvo FMX 440 saat Volvo Fuelwatch 2015 di Padalarang, Bandung, Jawa Barat, Senin (8/9/2015). Volvo FMX 440 menggunakan mesin diesel D13A-440 yang memiliki fasilitas turbo dan sanggup menghasilkan tenaga hingga 440 HP. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOWartawan berkesempatan mengemudikan truk Volvo FMX 440 saat Volvo Fuelwatch 2015 di Padalarang, Bandung, Jawa Barat, Senin (8/9/2015). Volvo FMX 440 menggunakan mesin diesel D13A-440 yang memiliki fasilitas turbo dan sanggup menghasilkan tenaga hingga 440 HP.

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia memiliki kontur jalan yang beragam, mulai dari rata sampai naik-turun lewat perbukitan. Ketika lewat jalur perbukitan, tidak jarang turun kabut tebal yang cukup mengganggu visibilitas pengemudi.

Jalur berbukit ini juga tidak jarang dilewati oleh truk besar pembawa barang. Dengan kondisi berkabut, tentunya akan lebih berbahaya dibanding saat cerah, sehingga risiko kecelakaan bisa meningkat.

Instruktur Rifat Drive Labs (RDL) Erreza Hardian mengatakan, ketika ada kabut, maka pandangan semua orang akan terhalang atau terbatas. Selain itu juga jelas ada cuaca dingin yang membuat kerja tubuh manusia tidak optimum.

Baca juga: Fitur Apa Saja yang Ada di Carry Minibus Seharga Rp 260 Jutaan

Gerbang masuk Golden Gate Bridge pada pukul 18.30 tertutup kabutKompas.com/Luthfia Ayu Azanella Gerbang masuk Golden Gate Bridge pada pukul 18.30 tertutup kabut

“Penelitian menunjukkan, penurunan suhu tubuh berhubungan dengan penurunan kosentrasi dan kinerja manusia. Artinya, semua pengguna jalan bisa turun kewaspadaannya, ini yang bahaya,” ucap Erreza dalam Kuliah Telegram Indonesia Truckers Club, Senin (8/2/2021).

Erreza kemudian mengatakan, kalau menjadi pengelola perusahaan truk, ketika melihat kabut yang tebal, lebih baik cari tempat berhenti yang diperbolehkan lalu laporkan ke atasan.

Baca juga: Lepas dari Ducati, Dovi Beralih ke Yamaha

“Kalau mobil kecil atau motor memang bisa melintas dengan menyalakan lampu kabut jika kondisi pengemudi dan kendaraannya optimal. Namun jika pengemudi atau kendaraan tidak dalam kondisi terbaiknya, harusnya berhenti dahulu,” kata Erreza.

Dengan begitu, risiko kecelakaan setidaknya bisa dikurangi. Melihat kondisi jalan yang tidak memungkinkan serta cuaca yang rawan terjadinya penurunan kewaspadaan, berhenti sejenak bisa menjadi pilihan yang aman.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X