Jika Tidak Ada Stimulus dari Pemerintah Pengusaha Bus Bisa Bangkrut

Kompas.com - 12/01/2021, 11:12 WIB
Sejumlah warga antre masuk bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri. ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMANSejumlah warga antre masuk bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri.

JAKARTA, KOMPAS.comPandemi Covid-19 masih saja terjadi di Indonesia. Berbagai cara coba dilakukan pemerintah untuk mengurangi penyebarannya, salah satunya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Ketat Jawa – Bali yang dimulai 11 – 25 Januari 2021.

Namun dengan adanya PSBB ketat ini, berbagai sektor ikut terganggu, misalnya seperti transportasi darat, terutama para Pengusaha otobus (PO). Pemilik PO Sumber Alam Anthony Steven Hambali mengatakan, ada pembatasan seperti ini, berpengaruh pada okupansi bus.

“Hari ini saja okupansi hanya 30 persen. Setiap pengumuman pemerintah semacam PSBB, pasti turun penumpangnya,” ucap Anthony kepada Kompas.com, Senin (11/1/2021).

Baca juga: Selama PSBB Jawa-Bali, Bus AKAP Dilarang Bawa Penumpang Penuh

Bus AKAP PO Mulyo IndahKOMPAS.com/FATHAN RADITYASANI Bus AKAP PO Mulyo Indah

Anthony mengatakan, untuk urusan harga tiket sebenarnya tidak ada peningkatan. Sayangnya walau harganya normal, penumpang tetap minim. Dirinya berharap ada stimulus ekonomi.

“Kami berharap selain ada pembatasan, harus diberikan pula stimulus ekonomi. Kalau tidak, masyarakat dan pengusaha akan terus berusaha untuk jalan,” kata Anthony.

Baca juga: Jarak Tempuh Jakarta-Pelabuhan Patimban Hanya 2 Jam, Lebih Efisien Dibanding Tanjung Priuk

Selain itu, pemerintah seharusnya memetakan sektor yang terdampak dari adanya PSBB ini. Kemudian mendapatkan insentif dari pemerintah. Apabila tidak ada stimulus, Anthony memprediksi di bulan April, usaha bus akan macet.

“Misalnya dari sektor perbankan, perpajakan, tidak ada keringanan. Bank restruk sampai Maret, kalau tidak perpanjang relaksasinya, rasanya kredit bakal macet,” ucapnya.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X