Jangan Paksa Anak Jadi Tameng Angin Saat Naik Sepeda Motor

Kompas.com - 19/12/2020, 09:12 WIB
Pemudik motor mulai padati jalur Kalimalang menuju Bekasi, Kamis (22/6/2017) Otomania/Setyo AdiPemudik motor mulai padati jalur Kalimalang menuju Bekasi, Kamis (22/6/2017)
Penulis Ari Purnomo
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Melakukan perjalanan jarak jauh menggunakan sepeda motor menjadi hal yang banyak dilakukan oleh masyarakat, terlebih di momen akhir tahun seperti ini. Perjalanan dilakukan entah sekadar berwisata atau untuk keperluan pulang kampung.

Faktanya, tidak sedikit orang tua yang membawa serta anaknya saat menempuh perjalanan jauh menggunakan sepeda motor.

Ironisnya, para orang tua kerap mengabaikan keselamatan sang anak secara tidak sadar. Contohnya, adalah dengan menempatkan anak di depan pengendara motor.

Padahal, saat anak diletakkan di bagian depan maka ada sejumlah risiko bisa saja terjadi. Belum lagi jika sampai terjadi kecelakaan, potensi cidera terbesar maka akan ditanggung oleh anak.

Baca juga: Mengapa STNK Kendaraan yang Sudah Dijual Perlu Diblokir?

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, saat anak berada di depan bisa saja mengganggu operasional.

Pemudik motor terjebak macet di jalur alternatif Karawang-Cikampek, Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (27/7/2014). Arus mudik ke kota-kota di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur diperkirakan akan masih padat hingga H-1 Lebaran. KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZES Pemudik motor terjebak macet di jalur alternatif Karawang-Cikampek, Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (27/7/2014). Arus mudik ke kota-kota di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur diperkirakan akan masih padat hingga H-1 Lebaran.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Anak yang ada di depan rawan melakukan pergerakan-pergerakan yang mengganggu operasional, bahkan sering jahil mengutak-atik perangkat yang ada di stang motor. Selain itu, anak yang di depan juga terkena angin karena menjadi tameng,” kata Sony kepada Kompas.com, Jumat (18/12/2020).

Selain itu, Sony menambahkan, saat menempatkan anak di depan maka anak akan menjadi bumper ketika terjadi insiden kecelakaan. Kondisi tersebut tentunya sangat berbahaya dan bisa mengancam keselamatan sang anak.

“Pengendara berfungsi sebagai bumper kala menghadapi kecelakaan, kalau ada anak kecil di depannya, maka secara tidak langsung anak tersebut dijadikan bumper,” ucapnya.

Baca juga: Begini Cara Mudah Blokir STNK Tanpa Harus ke Samsat

Menempatkan anak kecil di depan, kata Sony, juga akan mengganggu kestabilan kendaraan ketika melaju.

Tidak hanya itu saja, pengemudi juga bisa terganggu konsentrasinya ketika harus mengambil keputusan tiba-tiba.

Kendaraan pemudik dengan sepeda motor melintas pada puncak arus balik di jalan nasional Medan-Aceh kawasan Lhokseumawe, Aceh, Minggu (9/6/2019). Puncak arus balik Lebaran 2019 Aceh terjadi pada H+5 menyusul volume kendaraan yang melintas didominasi pemudik.(ANTARA FOTO/RAHMAD)KOMPAS.com/Gilang Kendaraan pemudik dengan sepeda motor melintas pada puncak arus balik di jalan nasional Medan-Aceh kawasan Lhokseumawe, Aceh, Minggu (9/6/2019). Puncak arus balik Lebaran 2019 Aceh terjadi pada H+5 menyusul volume kendaraan yang melintas didominasi pemudik.(ANTARA FOTO/RAHMAD)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.