Saran Operator Bus AKAP Terkait Aturan Wajib Tunjukan Hasil Rapid Test Antigen

Kompas.com - 18/12/2020, 18:41 WIB
Suasana di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur, Senin (10/6/2019). KOMPAS.com/Vitorio MantaleanSuasana di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur, Senin (10/6/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com – Menuju libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021, semua penumpang transportasi umum yang ingin masuk atau keluar Jakarta harus menyertakan hasil rapid test antigen.

Misalnya saat masuk ke terminal bus AKAP, Jika tidak membawa hasil tes tersebut, penumpang tidak diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanannya. Tentu saja hal ini dirasa tidak adil oleh para pengusaha bus AKAP.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan mengatakan, aturan ini belum tentu membuat orang membatalkan perjalanannya ketika tidak membawa hasil rapid test antigen.

Baca juga: Mengapa Truk dan Bus Jarang Gunakan Lajur Paling Kiri di Tol?

Sejumlah bus terparkir di Terminal Bus Terpadu Pulogebang, Selasa (15/5/2019).KOMPAS.com/Vitorio Mantalean Sejumlah bus terparkir di Terminal Bus Terpadu Pulogebang, Selasa (15/5/2019).

“Dia (penumpang) mencari alternatif lain yang tidak terdeteksi, yaitu jadi memakai kendaraan pribadi. Ini yang kami sayangkan, kita lihat nanti libur akhir tahun, apa enggak tambah banyak mobil pribadi dibanding angkutan umum,” ucap pria yang biasa disapa Sani kepada Kompas.com, Jumat (18/12/2020).

Sani mengatakan, kalau pemerintah memang ingin mendata atau screening siapa yang positif dan tidak, itu hal yang wajar, tapi caranya enggak seperti ini. Pemerintah bisa dengan memfasilitasi rapid test antigen gratis di terminal misalnya.

Baca juga: Mengulik Desain All New Honda Scoopy 2020

“Siapkan tim kesehatan di terminal, saat penumpang datang, lalu dilakukan rapid test antigen secara gratis. Jika dia positif, tidak diperbolehkan untuk bepergian dan langsung dikarantina, sedangkan kalau negatif baru boleh lanjutkan perjalanan,” kata Sani.

Jadi istilahnya, jangan membuat aturan tapi tidak memberikan solusi. Kalau diberlakukan aturan seperti ini malah memperbesar kesempatan travel gelap untuk kembali marak di jalanan. Jadi harus dipikirkan solusinya bagaimana.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X