Aturan Konversi Motor Listrik Mempersulit Bengkel UMKM

Kompas.com - 01/12/2020, 09:02 WIB
Skuter Listrik Hasil Karya Katros Garage & Alitt Susanto Ini Akan Menjadi Salah Satu Giveaway di IMX 2020 Foto: IstimewaSkuter Listrik Hasil Karya Katros Garage & Alitt Susanto Ini Akan Menjadi Salah Satu Giveaway di IMX 2020

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk bisa melakukan konversi motor bensin ke motor listrik harus mematuhi beberapa aturan. Tak hanya uji tipe atau urusan sertifikasi saja, tapi ada juga ketentuan lainnya.

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 65 Tahun 2020 tentang Konversi Sepeda Motor dengan Penggerak Motor Bakar Menjadi Sepeda Motor Berbasis Baterai, disebutkan bahwa setiap motor listrik hasil konversi harus disertifikasi.

Baca juga: Builder Sebut Konversi Motor Jadul Jadi Listrik Mahal

Menanggapi hal tersebut, Andi Akbar, builder Katros Garage, mengatakan, jika setiap motor listrik yang dikonversi harus disertifikasi, berarti hanya satu model saja yang bisa dibuat.

Honda BeAT yang dikonversi ke motor listrik oleh Katros GarageKatros Garage Honda BeAT yang dikonversi ke motor listrik oleh Katros Garage

"Kalau modelnya dibuat beda sedikit, harus disertifikasi lagi. Kalau harus bayar lagi, tentu kan tidak murah," kata pria yang akrab disapa Atenx tersebut, kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Menurut Atenx, adanya regulasi memang bagus. Tapi, kalau dari sudut pandangnya, aturan konversi motor bensin ke motor listrik itu dibuat secara sepihak. Menurutnya, peraturan tersebut tidak menguntungkan untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

"Regulasinya dibuat hanya sekadar agar motornya tidak membahayakan. Tapi, tidak mementingkan dari sisi UMKM (bengkel kecil). Ada peraturannya sih baik, tapi jangan dipersulit dengan aturan yang harus sertifikasi motor. Untuk sertifikasi motor itu kan mahal," ujar Atenx.

Baca juga: Motor Listrik Hasil Konversi Bisa Urus STNK dan Pakai Pelat Biru

Atenx sendiri sudah melakukan konversi motor bensin ke motor listrik, dengan basis skutik Honda BeAT.

"Saya sudah coba untuk sertifikasi motor listrik yang dari Honda BeAT itu. Katanya, saya juga harus membuat manual book. Salah satu poin yang kurang adalah saya harus membuat itu," kata Atenx.

Manual book yang dimaksud sama seperti Buku Panduan Pemilik Kendaraan Bermotor yang didapat setiap kali membeli motor baru.

"Ini kan motor custom, tidak perlu pakai manual book. Cukup dijelaskan saja pada pemiliknya. Itu berarti penilaiannya pada produksi massal dengan satu model," ujar Atenx.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X