Tren Pelapis Kursi Bus Mulai dari Fabric Sampai Kulit Sintetis

Kompas.com - 08/10/2020, 10:22 WIB
kabin bus Kompas.com/Fathan Radityasanikabin bus

JAKARTA, KOMPAS.com – Sama seperti kendaraan kecil, kursi yang ada di kabin bus menggunakan pelapis agar terlihat bagus. Bahan pelapisnya pun beragam, awalnya dari bahan fabric, hingga sekarang memakai kulit sintetis.

Export Manager karoseri Laksana, Werry Yulianto mengatakan, tren pelapis kursi bus ini dimulai sejak tahun 1990an, terutama untuk bahan fabric.

“Tahun 90an, banyak pelapis jok yang memakai fabric, ada juga yang sudah kulit, namun kualitasnya masih belum sebaik saat ini,” ucap Werry kepada Kompas.com, Rabu (7/10/2020).

Baca juga: Lebih Gagah dan Mewah, Bikin Tampang Fortuner Lawas Jadi Legender

kabin bus akaphaltebus.com kabin bus akap

Kemudian untuk tren kulit sintetis sendiri, baru muncul pada tahun 2010an. Kekurangan dari kursi dengan bahan fabric yaitu cenderung gampang kotor dan bau, apalagi untuk bus non AC.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Bahan fabric juga gampang menyerap, kalau dilapis plastik, jadi enggak nyaman. Kalau kulit sintetis kan lebih mudah perawatannya dan tidak gampang bau,” kata Werry.

Begitu juga yang dikatakan oleh Anggota Forum Bismania Indonesia, Dimas Raditya. Dimas mengatakan, pergeseran tren dari kursi berbahan fabric ke kulit sintetis dikarenakan kebersihan dan kemudahan merawatnya.

Baca juga: Menu City Car di Oktober 2020, Suzuki Kerek Harga Ignis

“Pelapis fabric bisa jadi sarang kutu, selain itu kalau ganti kulit sintetis jadi lebih gampang dibersihkan,” kata Dimas kepada Kompas.com.

Walaupun memiliki harga yang lebih mahal, perusahaan otobus (PO) saat ini lebih memilih memakai pelapis kulit sintetis. Pelapis kursi berbahan kulit sintetis unu juga sudah banyak ditemui di kelas pelayanan ekonomi AC.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X