Pertamina Pastikan Pasokan BBM Terjaga Selama Pandemi

Kompas.com - 29/09/2020, 18:41 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) memastikan pasokan bahan bakar minyak dan gas di dalam negeri tetap terpenuhi selama pandemi virus corona alias Covid-19.

Dirut PT Pertamina Patra Niaga, Commercial & Trading Business Group of Pertamina Mas'ud Khamid bahkan menyatakan, eksosistem bisnis dari hulu ke hilir tetap terjaga seperti proyek pembangunan Kilang.

"Pengoptimalan fasilitas eksisting seperti enam kilang pengolahan minyak dan gas serta fasilitas pengelolaan minyak bumi kami optimalkan supaya suplai BBM dan LPG terjamin," ujarnya.

Baca juga: Tak Lulus Uji Emisi, Mobil dan Motor di DKI Bakal Sulit Urus STNK

Ilustrasi SPBU Pertamina. 
KOMPAS/HERU SRI KUMORO Ilustrasi SPBU Pertamina.

Ia mengatakan, untuk di sektor hilir sebanyak kurang lebih 7.000 SPBU dan 168 LPG tetap beroperasional. Kemudian untuk BBM jenis Premium dan Pertalite juga akan tetap tersaji hingga putusan lebih lanjut.

Menurut Mas'ud, Pertamina memiliki beberapa strategi untuk menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat. Pertama, memastikan seluruh petugas di lapangan dalam kondisi terproteksi dan disiplin menjalankan protokol Covid-19.

Kedua, menjaga keberlangsungan operasional mitra kerja dalam kondisi permintaan yang sedang turun. Untuk hal ini Pertamina memberikan kredit agar para mitra tetap bisa menjalankan usahanya.

Kemudian, memaksimalkan layanan Call Center 135 dan MyPertamina untuk pembelian BBM dan LPG selama masa pandemi saat PSBB.

Baca juga: Siap-siap, Sanksi Mobil dan Motor yang Tak Lulus Uji Emisi Menanti

Kendaraan truk pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina sedang terparkir di salah satu SPBU di Indonesia.(Dok. Pertamina) Kendaraan truk pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina sedang terparkir di salah satu SPBU di Indonesia.

Sebelumnya, Pertamina mencatat tengah mengalami kerugian sekitar Rp 11 triliun pada semester I/2020 imbas berkurannya permintaan atas BBM selama pandemi dan pemberlakuan PSBB.

Selain itu, kerugian tersebut juga dikontribusi oleh faktor kurs rupiah terhadap dollar AS. Kala itu, nilai tukar rupiah berada di titik terendah yakni menyentuh angka Rp 16.608 per dollar AS.

Di satu sisi, belanja perusahaan, seperti untuk impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM), menggunakan mata uang dollar AS.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.