Penjelasan Luhut Mengapa Indonesia Bisa Jadi Pemain Besar di Era EV

Kompas.com - 28/07/2020, 07:02 WIB
Ilustrasi kendaraan listrik stanlyIlustrasi kendaraan listrik

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meyakini bahwa potensi Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam era kendaraan listrik atau electric vehicle ( EV) khususnya pada komponen baterai terbuka lebar.

Hanya saja ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait hilirisasi tambang mineral. Sebab, Tanah Air punya sumber yang sangat kaya tapi belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Luhut, sudah berpuluh-puluh tahun Indonesia hanya mengekspor hasil tambang sebagai bahan baku atau raw material saja.

Baca juga: Era Mobil Listrik Semakin Dekat, Kemenhub Teken Aturan Uji Tipe

Ilustrasi pabrik mobilwww.caradvice.com.au Ilustrasi pabrik mobil

Sebagai contoh, berdasarkan data Kemenko Maves, pada tahun 2018 ekspor bijih nikel dari dalam negeri mencapai 19,25 juta ton dengan harga 31 dollar AS per ton. Padahal, jika bijih nikel itu diolah jadi beberapa produk turunan seperti stainless steel slab, maka nilai tambahnya bisa meningkat signifikan.

"Bijih nikel yang diproses menjadi stainless steel slab dapat meningkatkan nilai ekspor 10,2 kali lipat," ujarnya dalam diskusi virtual.

Tak hanya itu, pada periode yang sama Indonesia juga tercatat telah mengekspor 8,65 juta ton bauksit senilai 263 juta dollar AS dengan harga 30 dollar AS per ton.

Nilai ekspor bisa meningkat 3,95 kali lipat ketika yang dijual adalah produk turunannya yaitu alumina. Indonesia sudah mengekspor alumina sebanyak 3,46 juta ton dengan harga 300 dollar AS per ton.

Baca juga: Kemenperin Sosialisasikan Pakai Kendaraan Listrik di Tengah Pandemi

PHEVIstimewa PHEV

Indonesia juga mengekspor produk turunan alumina, yaitu aluminium ingot sebanyak 1,73 juta ton dengan harga 1.700 dollar AS per ton atau senilai 2,94 miliar dollar AS. 

“Dahulu Indonesia hanya ekspor bauksit saja. Sekarang kita sudah di tahap bangun smelter grade alumina yang bisa hasilkan aluminium ingot sampai produk elektrikal dan komponen otomotif,” kata Luhut.

Tak sampai di sana, hilirisasi juga diupayakan untuk dilakukan pada produk tembaga yang diimplementasikan melalui pembangunan smelter tembaga di kawasan industri Weda Bay, Maluku Utara. Olahan tembaga dapat menghasilkan asam sulfat yang berguna untuk pembuatan baterai lithium.

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X