Biar Harga Tak Terlalu Jatuh, Begini Cara Jual Mobil

Kompas.com - 10/07/2020, 11:45 WIB
Seorang pedagang memasang kertas berisi spesifikasi mobil yang akan dijual di bursa mobil Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Minggu (15/12/2019). Setiap Minggu ratusan mobil bekas dijajakan di Bursa Mobil Sriwedari. Ari PurnomoSeorang pedagang memasang kertas berisi spesifikasi mobil yang akan dijual di bursa mobil Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Minggu (15/12/2019). Setiap Minggu ratusan mobil bekas dijajakan di Bursa Mobil Sriwedari.
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Selama pandemi tak sedikit orang yang harus menjual aset untuk memenuhi kebutuhan. Salah satu aset yang mudah dicairkan adalah kendaraan pribadi.

Namun sebelum Anda menjual mobil kesayangan, ada baiknya ikut tips berikut supaya banderol harga bisa terkerek naik alias tidak jatuh-jatuh sekali.

Pasalnya saat ini harga beli mobil bekas yang ditawarkan pedagang cenderung rendah, sebab permintaannya juga belum terlalu banyak.

Baca juga: Toyota Corolla Cross Resmi Meluncur, Harga Mulai Rp 400 Jutaan

Isuzu Panther di pasar mobil bekas cukup banyak dicari.tribunnews.com Isuzu Panther di pasar mobil bekas cukup banyak dicari.

Herjanto Kosasih, Senior Manager Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, mengatakan, sebelum menjual mobil pastikan dalam keadaan baik dan berfungsi normal.

Menurutnya, harga mobil bekas bisa tinggi jika kondisinya sudah siap dipakai. Sehingga konsumen tidak perlu melakukan perbaikan lagi.

“Untuk yang mau jual, biar harga enggak drop, memang mobil itu harus dalam kondisi prima,” ucap Herjanto, kepada Kompas.com belum lama ini.

Baca juga: 3 Mobil Bekas Paling Dicari di Situs Online Masa Pandemi

Ilustrasi servis mobil di Bengkel CarfixIstimewa Ilustrasi servis mobil di Bengkel Carfix

“Jangan mobil yang asal dipakai, pasti nyungsep harganya. Kalau kondisi jelek minta harga tinggi, itu kita bakal dihina pedagang karena sekarang jualnya susah,” katanya.

Oleh sebab itu, Herjanto menyarankan bagi Anda yang ingin menjual mobil, sebaiknya perbaiki dulu jika ada yang rusak.

Namun kalau biaya perbaikan membengkak, menurutnya mobil sebaiknya tidak perlu dijual. Tujuannya untuk menghindari kerugian dari harga beli yang saat ini terbilang rendah.

“Bahkan kalau tidak kepepet lebih baik tidak usah dijual. Mending didiamkan saja, daripada habis di biaya karena taksirannya rendah,” ujar Herjanto.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X