Waspada Bahaya Laten Jalur Sepeda yang Nonpermanen

Kompas.com - 19/06/2020, 08:42 WIB
Pengendara sepeda tidak bisa melintasi jalur sepeda karena bus memanfaatkannya untuk tempat parkir di Jalan Pemuda, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Kamis (19/9/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menguji coba jalur sepeda tahap pertama mulai 20 September 2019 hingga 19 November 2019 di tujuh jalur, antara lain Jalan Medan Merdeka Selatan, Jalan M.H Thamrin, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Proklamasi, Jalan Pramuka. dan Jalan Pemuda. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
  ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRAPengendara sepeda tidak bisa melintasi jalur sepeda karena bus memanfaatkannya untuk tempat parkir di Jalan Pemuda, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Kamis (19/9/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menguji coba jalur sepeda tahap pertama mulai 20 September 2019 hingga 19 November 2019 di tujuh jalur, antara lain Jalan Medan Merdeka Selatan, Jalan M.H Thamrin, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Proklamasi, Jalan Pramuka. dan Jalan Pemuda. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Guna mengantisipasi penyebaran Covid-19, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyediakan jalur khusus sementara untuk pesepeda di masa transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Jalur yang berada di Jalan Sudirman hingga MH Thamrin dengan panjang 14 kilometer tersebut dibuat menyatu dengan jalan kendaraan bermotor dan hanya dipisahkan dengan traffic cone. Tujuannya agar pengguna sepeda tidak menyatu dengan pejalan kaki di trotoar.

Namun demikian, kondisi ini dianggap cukup berisiko dari segi keselamatan di jalan raya. Terlebih lagi, mengingat masih banyak masyarakat yang tingkat kesadaran dan ketertibannya rendah dalam berlalu lintas.

Baca juga: Hadapi Ganjil-Genap, Pembeli Mobil Pertama Banyak Pesan Pelat Ganjil

"Kita pernah bahas ini sebelumnya, jadi jalur sepeda yang tidak dibuat permanen itu memang memiliki tingkat risiko tinggi, apalagi konteksnya ini jalan raya dan pusat kota dengan tingkat lalu lalang kendaraan yang cukup ramai," ujar Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2020).

Sejumlah warga bersepeda di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (31/5/2020).  Mereka menggunakan masker.DOKUMEN PRIBADI Sejumlah warga bersepeda di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (31/5/2020). Mereka menggunakan masker.

"Harus disadari bila tingkat ketertiban masyarakat kita masih rendah, baiknya pemerintah bila ingin membuat sebuah aturan atau fasilitas juga memikirkan aspek-aspek lain, seperti budaya dan mempertimbangkan risikonya," kata dia.

Jusri menjelaskan, secara maksud dan tujuan, pembuatan jalur sementara untuk sepeda memang cukup baik karena selain mendukung budaya hidup sehat, juga menekan polusi udara.

Namun, bila peletakannya salah, apalagi hanya dibatasi dengan traffic cone yang tingkat kekuatannya tidak seperti pembatas permanen, yang ada justru akan mendatangkan bencana karena sangat berbahaya, baik itu bagi pengguna sepedanya maupun bagi pengguna kendaraan bermotor.

Baca juga: Toyota Banting Harga Mobil Bekas Hingga 50 Persen, Avanza Cuma Rp 60 Juta

Ambil contoh seperti pembatas jalan yang ada di koridor bus transjakarta, meski sudah menggunakan partisi permanen dari beton, masih banyak pengguna mobil dan sepeda motor yang sering menabrak dan mengalami kecelakaan.

Pesepeda di Australia meminta aturan wajib memakai helm saat mengendarai sepeda makin diperlunak. (Australia Plus) Pesepeda di Australia meminta aturan wajib memakai helm saat mengendarai sepeda makin diperlunak. (Australia Plus)

Kondisi tersebut, menurut Jusri, bisa disebabkan beragam faktor, mulai dari pengendara yang tak tertib berlalu lintas, kurang waspada, sampai hal-hal yang sebenarnya tidak disengaja, seperti faktor eksternal lainnya.

"Nah, bayangkan bila kejadian itu menimpa di jalur sepeda yang hanya dibatasi dengan cone, akan sangat fatal bagi pengguna sepeda. Namun, harus disadari juga, banyak pengguna sepeda yang suka semena-mena mengokupasi jalan dan mengganggu pengguna kendaraan bermotor," ucap Jusri.

"Karena itu, kondisi-kondisi ini harus diperhitungkan. Ada aspek safety, kebudayaan yang terkait masalah pola ketertiban masyarakat kita apakah sudah siap atau belum, sampai perilakunya. Karena bila tidak, risikonya akan makin besar," kata dia.

Diketahui sebelumnya, Kepala Dinas Provinsi DKI Jakarta Syafrin Liputo bersama Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo akan menerapkan pembatasan waktu di jalur sepeda tersebut.

Baca juga: 7 Pesepeda Ditabrak Avanza, Jalur Sepeda Butuh Separator Permanen

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo bersama Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo melakukan jumpa pers di depan FX Sudirman pada pagi tadi, dalam pembahasan jam operasional jalur sepeda sementara atau pop up bike line di lajur Jalan MH Thamrin - Jendral Sudirman sepanjang 14 Kilometer. . . Nantinya Jalur sepeda ini diberlakukan jam operasional mulai pagi hari 06.00 - 08.00 WIB dan sore hari 16.00-18.00 WIB berlaku pada hari Senin sampai Jum'at. Sementara itu, jalur pesepeda dioperasikan mulai pukul 06.00-10.00 dan 16.00-19.00 pada Sabtu dan Minggu. . . Rencana pop up bike line ini masih dalam tahap evaluasi dan bersifat sementara selama pelaksanaan PSBB Transisi. Tujuan pemberlakuan pop up bike line untuk memisahkan pesepeda dengan pejalan kaki. Hal ini guna menciptakan ruang untuk penerapan jaga jarak guna menimalisir penularan Covid-19. Traffic Cone pembatas jalur pesepeda dan kendaraan bermotor selanjutnya akan dipinggirkan di luar waktu operasional oleh petugas gabungan. #dishubdkijakarta #biketowork #HadapiBersama #PSBBTransisi #yukpakaimasker #PSBBJakarta #bike #perlutahu #bersepeda #JakartaRamahBersepeda Sumber: @dalops_dishubdkijakarta

A post shared by DISHUB PROVINSI DKI JAKARTA (@dishubdkijakarta) on Jun 18, 2020 at 12:29am PDT

 

Untuk hari kerja dari Senin sampai Jumat, jalur berlaku dari pukul 06.00-08.00 WIB dan 16.00-18.00 WIB. Sementara pada Sabtu dan Minggu dari pukul 06.00-10.00 WIB dan sorenya dari 16.00-19.00 WIB.

"Di sela-sela jam itu, maka pembatas pop-up bike line ini kemudian kami pinggirkan karena memang arus lalu lintas juga cukup deras. Jadi ini memang tidak permanen. Bisa saja setelah PSBB selesai, pandemi ini selesai, kita akan evaluasi apakah jalur sepeda ini masih dibutuhkan atau tidak," ucap Sambodo.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X