Waspada Bahaya Laten Jalur Sepeda yang Nonpermanen

Kompas.com - 19/06/2020, 08:42 WIB
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Guna mengantisipasi penyebaran Covid-19, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyediakan jalur khusus sementara untuk pesepeda di masa transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Jalur yang berada di Jalan Sudirman hingga MH Thamrin dengan panjang 14 kilometer tersebut dibuat menyatu dengan jalan kendaraan bermotor dan hanya dipisahkan dengan traffic cone. Tujuannya agar pengguna sepeda tidak menyatu dengan pejalan kaki di trotoar.

Namun demikian, kondisi ini dianggap cukup berisiko dari segi keselamatan di jalan raya. Terlebih lagi, mengingat masih banyak masyarakat yang tingkat kesadaran dan ketertibannya rendah dalam berlalu lintas.

Baca juga: Hadapi Ganjil-Genap, Pembeli Mobil Pertama Banyak Pesan Pelat Ganjil

"Kita pernah bahas ini sebelumnya, jadi jalur sepeda yang tidak dibuat permanen itu memang memiliki tingkat risiko tinggi, apalagi konteksnya ini jalan raya dan pusat kota dengan tingkat lalu lalang kendaraan yang cukup ramai," ujar Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2020).

Sejumlah warga bersepeda di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (31/5/2020).  Mereka menggunakan masker.DOKUMEN PRIBADI Sejumlah warga bersepeda di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (31/5/2020). Mereka menggunakan masker.

"Harus disadari bila tingkat ketertiban masyarakat kita masih rendah, baiknya pemerintah bila ingin membuat sebuah aturan atau fasilitas juga memikirkan aspek-aspek lain, seperti budaya dan mempertimbangkan risikonya," kata dia.

Jusri menjelaskan, secara maksud dan tujuan, pembuatan jalur sementara untuk sepeda memang cukup baik karena selain mendukung budaya hidup sehat, juga menekan polusi udara.

Namun, bila peletakannya salah, apalagi hanya dibatasi dengan traffic cone yang tingkat kekuatannya tidak seperti pembatas permanen, yang ada justru akan mendatangkan bencana karena sangat berbahaya, baik itu bagi pengguna sepedanya maupun bagi pengguna kendaraan bermotor.

Baca juga: Toyota Banting Harga Mobil Bekas Hingga 50 Persen, Avanza Cuma Rp 60 Juta

Ambil contoh seperti pembatas jalan yang ada di koridor bus transjakarta, meski sudah menggunakan partisi permanen dari beton, masih banyak pengguna mobil dan sepeda motor yang sering menabrak dan mengalami kecelakaan.

Pesepeda di Australia meminta aturan wajib memakai helm saat mengendarai sepeda makin diperlunak. (Australia Plus) Pesepeda di Australia meminta aturan wajib memakai helm saat mengendarai sepeda makin diperlunak. (Australia Plus)

Kondisi tersebut, menurut Jusri, bisa disebabkan beragam faktor, mulai dari pengendara yang tak tertib berlalu lintas, kurang waspada, sampai hal-hal yang sebenarnya tidak disengaja, seperti faktor eksternal lainnya.

"Nah, bayangkan bila kejadian itu menimpa di jalur sepeda yang hanya dibatasi dengan cone, akan sangat fatal bagi pengguna sepeda. Namun, harus disadari juga, banyak pengguna sepeda yang suka semena-mena mengokupasi jalan dan mengganggu pengguna kendaraan bermotor," ucap Jusri.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.