Era Elektrifikasi Kendaraan Jalan Terus Meski Dihadang Covid-19

Kompas.com - 04/06/2020, 16:28 WIB
Ilustrasi mobil listrik. The GuardianIlustrasi mobil listrik.
|

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembangan kendaraan bermotor listrik (KBL) beserta infrastruktur penunjangnya di Tanah Air pada tahun ini berpotensi terhambat imbas pandemi virus corona alias Covid-19.

Terlebih, penyerapan atau daya serap pasar untuk kendaraan ramah lingkungan ini cukup sulit karena harga mobil listrik (untuk pribadi) cenderung lebih mahal dibandingkan yang konvensional.

Meski demikian, Kementerian Perindustrian ( Kemenperin) mengaku tidak melakukan penundaan persiapan elektrifikasi di Indonesia. Dalam hal ini, ialah mengenai peraturan turunan kendaraan listrik dan upaya transfer teknologinya.

Baca juga: Pemerintah Ingin Percepat Transfer Teknologi Baterai Kendaraan Listrik

 

Hyundai memperkenalkan produk terbarunya, yakni Hyundai IONIQ Electric untuk mendukung kendaraan yang ramah lingkungan di Indonesia.Dok. Hyundai Motor Company Hyundai memperkenalkan produk terbarunya, yakni Hyundai IONIQ Electric untuk mendukung kendaraan yang ramah lingkungan di Indonesia.

"Upaya mendorong pengembangan kendaraan listrik terus kami lakukan. Pada saat ini, Kemenperin sedang menyusun kebijakan turunan Perpres 55/2019 di antaranya peta jalan pengembangan KBL berbasis baterai serta tata cara perhitungan TKDN-nya," kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Taufiek Bawazier kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2020).

Bahkan, lanjut Taufiek, pihaknya tetap melakukan proses verifikasi teknis Nomor Identifikasi Kendaraan (NIK) untuk perusahaan-perusahaan yang akan memproduksi KBL berbasis baterai.

"Di samping itu, kami memberikan fleksibilitas bagi perusahaan yang sedang mengajukan permohonan Tanda Pendaftaran Tipe (TPT) impor kendaraan listrik murni, yang diharapkan bisa mendorong ekosistem kendaraan listrik di Indonesia," kata dia.

"Namun memang terkait penyerapan pasarnya perlu untuk diamati, terutama dengan adanya Covid-19 ini," lanjut Taufiek.

Baca juga: Gaikindo Merasa Beruntung Dapat IOMKI dari Kemenperin 

Mitsubishi Outlander PHEV, sistem kelistrikan khas Mitsubishi untuk SUV 4WDKompas Mitsubishi Outlander PHEV, sistem kelistrikan khas Mitsubishi untuk SUV 4WD

Berdasarkan beberapa studi global, dinyatakan bahwa Indonesia memiliki daya saing kuat sebagai produsen KBL utama dunia yang didukung adanya faktor biaya tenaga kerja dan energi yang lebih murah.

Serta, potensi bahan baku baterai yang melimpah. Jadi, biaya produksi kendaraan jenis ini disebut bakal lebih kompetitif jika dibandingkan negara-negara lainnya.

Bahan baku ini, antara lain, nikel dan kobalt. Bila itu bisa dikembangkan jadi baterai lithium, maka angan-angan tadi bisa saja jadi kenyataan.

Baca juga: Proyek Infrastruktur Jadi Harapan Baru Industri Kendaraan Niaga

SPKLU PLN untuk Kendaraan Listrik SPKLU PLN untuk Kendaraan Listrik
 

Pada kesempatan sama, Taufiek juga mengatakan bahwa pihaknya tengah menggalakkan pengembangan pembangkit listrik bersumber energi terbarukan (air dan angin) di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk mendukung era KBL secara nasional.

"Beberapa di antaranya seperti, Sulawesi yang memiliki potensi PLTA sebesar 4000 - 6000 MW, Kalimantan Utara yang memiliki potensi PLTA sebesar 16.000 MW, dan Sumatera Utara dengan potensi PLTA sebesar 4000 MW," katanya.

"Pengembangan pembangkit listrik tersebut dapat dijadikan sarana untuk meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia mampu menjadi basis produksi KBL yang didukung sumber energi yang ramah lingkungan," ujar Taufiek.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X