Kenali Bahaya Microsleep Saat Nyetir, Fatal dan Mematikan

Kompas.com - 14/01/2022, 20:21 WIB
Ilustrasi microsleep, microsleep saat berkendara Shutterstock/lightpoetIlustrasi microsleep, microsleep saat berkendara

JAKARTA, KOMPAS.COM – Saat mengemudikan mobil, kondisi fisik dari pengemudi harus dalam keadaan prima. Bila pengemudi dalam keadaan kelelahan akan membuat mengantuk dan berbahaya.

Jika memaksakan melajukan mobil dalam keadaan tidak prima, pengemudi akan alami microsleep.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan jika microsleep adalah kondisi yang sangat berbahaya bagi pengendara.

Baca juga: Mendengarkan Musik Sambil Mengemudi Bukan Obat Mengantuk

“Kecelakaan saat mengantuk mengemudi biasanya tidak fatal, namun jika microsleep sangat fatal,” kata Sony baru-baru ini pada Kompas.com.

Sony menjelaskan jika microsleep adalah kondisi dimana otak sudah tidur. Meskipun fisik terlihat tidak tidur, namun otak yang tidur. Kondisi ini berbeda dengan orang yang mengantuk.

Seseorang yang mengantuk hanya fisik dan aktivitasnya saja yang melemah. Sedangkan microsleep akan membuat pikiran seseorang langsung kosong.

Bahaya Microsleep Saat BerkendaraKOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Bahaya Microsleep Saat Berkendara

Biasanya prosesnya microsleep tidak langsung mengantuk. Hal ini akan ditandai dengan mata perih, menguap dan pegal-pegal atau letih.

Kemudian, ketika tubuh lelah namun tetap memaksakan diri untuk mengemudi akan mengantuk. Setelah memasuki tahap mengantuk, masuk ke tahap super letih.

“Pada tahap dimana pengemudi alami pegal-pegal dia sudah mati rasa. Fungsi otak pengemudi tidak bekerja sehingga pikirannya ngambang. Pandangan dan pikiran kosong,” imbuh Sony.

Baca juga: Merasakan Tenaga Buas New Fortuner 2.800 cc

Microsleep ini membuat seseorang kehilangan kendali atas tubuhnya, sehingga terkadang agresif saat mengemudi. Hal tersebut dikarenakan pengemudi menyetir mobil dalam keadaan otak tidur. Oleh karena itu, kecelakaan akibat microsleep sangat fatal.

Untuk mencegah kejadian ini, jangan pernah menambah kecepatan mengemudi saat mulai mengantuk. Mengantuk adalah sinyal awal bahaya dari tubuh dimana sudah waktunya untuk istirahat.

“Menambah kecepatan itu dipercaya membuat adrenalin pengemudi bertambah sehingga lebih segar. Namun konsep Itu salah. Itu sifatnya hanya sementara atau sesaat. Nanti akan kembali lemas lagi karena badan memang sudah drop dan waktunya istirahat,” tutup Sony.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.