Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengendara Motor Terjatuh Kaget Mendengar Klakson

Kompas.com - 06/01/2022, 09:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan lalu lintas masih menjadi momok menyeramkan di jalan raya khususnya di Indonesia.

Seperti yang baru saja terjadi menimpa seorang pelajar yang tewas terlindas bus setelah sepeda motor yang dikendarai ibunya terjatuh pada jalanan padat lalu lintas, di Jalan Soekarno-Hatta (by pass), Kecamatan Tanjung Senang, Lampung, Rabu (5/1/2022).

Keduanya terjatuh karena sang ibu kaget mendengar klakson mobil dengan keras dari arah belakang.

Baca juga: Kampas Kopling Skutik Bisa Aus karena Kebiasaan Ini

“Sebelum tertabrak, sepeda motor korban dan ibunya ini sempat terjatuh terlebih dahulu karena terkejut diklason sebuah mobil dengan suara yang keras dari arah belakang. Sehingga sepeda motor terjatuh ke arah kiri jalan raya,” ucap Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Bandar Lampung AKP Rohmawan, dikutip dari Kompas.com, Rabu (5/1/2022).

Klakson memang merupakan kelengkapan kendaraan yang berfungsi sebagai alat komunikasi dengan pengguna jalan yang lain. Namun perlu diingat, penggunaan klakson bukan alat untuk pelampiasan emosi di jalan dan harus mengikuti etika yang berlaku.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, pada etika dalam membunyikan klakson itu harus sopan, tidak boleh menimbulkan konflik atau bahkan menimbulkan korban jiwa.

Ilustrasi klaksontribunnews.com Ilustrasi klakson

“Menyalakan klakson yang ideal saat jaraknya terukur sekitar 10-25 meter, kalau terlalu dekat pasti membuat kaget dan motor bisa hilang keseimbangan. Jadi kalau ada motor nyelonong atau motong jalur dengan jarak yang terlalu dekat, refleksnya menghindari kecelakaan bukan klakson,” ucap Sony saat dihubungi Kompas.com, Rabu (5/1/2022).

Sony melanjutkan, klakson juga tidak boleh dimodifikasi dengan suara yang lebih keras karena semua harus sesuai standar pabrik untuk keselamatan pihak lain.

Sementara itu, founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menambahkan, saat ini penggunaan klakson di Indonesia terlalu bebas.

Orang bisa sesuka hati membunyikan klakson secara berlebihan. Kondisi inilah yang dianggap Jusri bisa memancing emosi dan menimbulkan konflik di jalan, bahkan burujung tindakan kriminal.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.