Kenapa Pembonceng Motor Lebih Berisiko Ketika Kecelakaan?

Kompas.com - 17/09/2021, 09:12 WIB
Kecelakaan maut terjadi di Jalan Raya Blora menuju Grobogan tepatnya di Desa Dalingan, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (9/6/2017) siang sekitar pukul 14.00 WIB. KOMPAS.com/Puthut Dwi PutrantoKecelakaan maut terjadi di Jalan Raya Blora menuju Grobogan tepatnya di Desa Dalingan, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (9/6/2017) siang sekitar pukul 14.00 WIB.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sepeda motor menjadi kendaraan yang paling sering terlibat dalam kecelakaan lalu lintas. Baik kecelakaan yang disebabkan oleh pengemudi itu sendiri, atau pun yang melibatkan kendaraan lainnya.

Bahkan tidak sedikit pengendara maupun pembonceng yang mengalami luka parah hingga meninggal dunia ketika terlibat dalam kecelakaan.

Baca juga: Bertemu Pelat Nomor Dewa yang Minta Jalan, Apa yang Harus Dilakukan?

Dalam banyak kasus, pembonceng motor justru yang lebih sering menjadi korban dengan cedera yang lebih parah dibandingkan dengan pengemudi.

Menanggapi hal ini Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, memang benar jika rata-rata kecelakaan yang melibatkan sepeda motor, maka risiko cedera terbesar ada pada pembonceng.

Ilustrasi kecelakaanautoaccident.com Ilustrasi kecelakaan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Pasti korbannya lebih fatal yang dibonceng, karena rata-rata yang dibonceng tidak siap, tidak melihat (situasi di depan) dan kurang waspada,” katanya kepada Kompas.com belum lama ini.

Sedangkan untuk pengemudinya akan lebih siap karena posisinya berada di depan dan lebih memahami lingkungan berkendara dibandingkan dengan pembonceng.

Baca juga: Kalahkan Marquez, Bos Ducati Beberkan Keunggulan Desmosedici GP21

“Pengemudi yang di depan kan yang mengarahkan motornya jadi sudah memperhitungkan risikonya. Walaupun tetap punya risiko,” ujar Sony.

Untuk itu, Sony menyarankan, jika seseorang berada di posisi sebagai pembonceng agar tidak lengah selama perjalanan.

“Idealnya tetap memantau kondisi di depannya, jadi ada persiapan kalau emergency. Jangan pernah lengah atau terlalu percaya dengan rider,” ucapnya.

Kendaraan pemudik dengan sepeda motor melintas pada puncak arus balik di jalan nasional Medan-Aceh kawasan Lhokseumawe, Aceh, Minggu (9/6/2019). Puncak arus balik Lebaran 2019 Aceh terjadi pada H+5 menyusul volume kendaraan yang melintas didominasi pemudik.(ANTARA FOTO/RAHMAD)KOMPAS.com/Gilang Kendaraan pemudik dengan sepeda motor melintas pada puncak arus balik di jalan nasional Medan-Aceh kawasan Lhokseumawe, Aceh, Minggu (9/6/2019). Puncak arus balik Lebaran 2019 Aceh terjadi pada H+5 menyusul volume kendaraan yang melintas didominasi pemudik.(ANTARA FOTO/RAHMAD)

Hal yang sama juga diucapkan oleh Head of Safety Riding Promotion Wahana, Agus Sani. Pembonceng juga harus berkonsentrasi terhadap lingkungan berkendara agar lebih siap jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Baca juga: Muluncur 17 September, Daihatsu Terios Punya Fitur Idling Stop

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.