Berakhir Agustus 2021, Begini Dampak Insentif PPnBM buat Adira

Kompas.com - 20/08/2021, 10:22 WIB
Honda di IIMS Hybrid 2021 KOMPAS.COM/STANLY RAVELHonda di IIMS Hybrid 2021

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah berencana tidak akan memperpanjang pemberian insentif 100 persen untuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM) kendaraan bermotor.

Pada periode September-Desember 2021, diskon PPnBm bakal dilanjut dengan potongan sebesar 25 persen.

Berakhirnya diskon PPnBM 100 persen tentu akan berdampak pada performa penjualan otomotif. Termasuk sektor pendukung, seperti perusahaan pembiayaan.

Baca juga: Suzuki Carry Dikejar Harimau, Ban Mobil Digigit Sampai Kempis

Ilustrasi pelayanan Adira Finance.Baihaki/Kontan Ilustrasi pelayanan Adira Finance.

Harry Latif, Direktur Portofolio Adira Finance, mengatakan diskon PPnBM berdampak pada penjualan produk pembiayaan. Apalagi mayoritas pembiayaan berasal dari kredit kendaraan bermotor.

“Sejauh ini diperpanjangnya diskon PPnBM, bahkan diperlebar ke beberapa segmen, turut membantu penjualan kami,” ujar Harry, dalam konferensi virtual (19/8/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski begitu, pengaruh diskon PPnBM terhadap penjualan Adira Finance sebetulnya tidak begitu signifikan. Sebab mayoritas pembiayaan masih berasal dari kredit motor, ketimbang kredit mobil.

Baca juga: Polisi Bilang Sudah Amankan Aksi Lempar Batu di Tol Sumatera

Salah satu industri yang memproduksi kendaraan, Jakarta, Sabtu (17/10/2020).Dokumentasi Humas Kementerian Perindustrian Salah satu industri yang memproduksi kendaraan, Jakarta, Sabtu (17/10/2020).

“Jenis produk terbesar masih di motor, terutama motor baru sekitar 40 persen lebih. Tapi kalau ngomongin growth, karena ada kebijakan PPnBM, akhirnya kita lihat growth mobil baru lebih tinggi dibandingkan motor,” ucap Harry.

Hal yang sama juga diungkap Hafid Hadeli, Direktur Utama Adira Finance. Menurutnya, suplai yang kurang selama periode relaksasi PPnBM jadi kendala buat konsumen.

“Kalau kita lihat, selama ini justru suplai agak kurang, karena pembatasan produksi dan sebagainya. Namun, belakangan kelihatannya suplai akan menguat,” kata Hafid.

“Nah itu mungkin akan mengkompensasi demand yang tadinya tinggi tapi barang kurang, sekarang demand sedikit turun tapi barang ada. Saya pikir dampak peralihannya ini tidak akan signifikan,” tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.