Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan Penjualan DFSK Super Cab Diesel Tak Sebaik Versi Bensin

Kompas.com - 22/06/2021, 14:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Selain Super Cub mesin bensin 1.500 cc, DFSK juga memiliki varian diesel dengan kubikasi 1.300 cc. Meski secara kapasitas mesin lebih rendah, tapi torsi yang dihasilkan jauh lebih badak.

Secara spesifikasi tersebut, harus varian diesel Super Cab dengan kode mesin SFD tersebut lebih cocok digunakan sebagi mobil niaga ringan. Namun kenyataannya berbeda, penjualannya justru jauh berada di bawah model bensin.

Cing Hok, Sales & Marketing Director PT Sokonindo Automobile, mengatakan ada beberapa hal yang membuat Super Cab diesel secara performa penjualan tertinggal, yakni terkait harga serta masalah bahan bakar.

Baca juga: DFSK Kasih Sinyal Bermain di Segmen MPV Pasar Indonesia

"Secara harga diesel lebih mahal dari bensin, bedanya bisa sampai Rp 20 jutaan. Sementara di segmen niaga ringan konsume itu kan sensitif soal harga, cenderung cari yang murah karena lebih memikirkan fungsinya," kata Cing Hok kepada media di Klungkung, Bali, Minggu (20/6/2021)

Uji Irit DFSK Super Cab di BaliKOMPAS.COM/STANLY RAVEL Uji Irit DFSK Super Cab di Bali

Untuk masalah bahan bakar, Cing Hok sebenarnya tak manampik bila konsumsinya bisa lebih irit dari versi bensin, namun yang menjadi masalah adalah soal ketersediaan Solar.

Menurut dia, beberapa daerah, terutama di kawasan Indonesia Timur, banyak yang enggan memilih Super Cab diesel karena Solar yang mulai sulit.

Alhasil, calon konsumen harus membeli Solar yang secara harga lebih mahal. Contohnya seperti Pertamina Dex atau Dexlite.

Baca juga: Cuma di Bali, DFSK Super Cab Naik Kelas Pakai Audio Android

"Perhitungannya begitu, kalau mereka (konsumen) beli yang diesel tapi Solar biasa langka, mereka justru harus keluar biaya lebih mahal untuk beli BBM. Ujung-ujungnya efesiensi secara pengeluaran operasional jadi lebih berat," kata Cing Hok.

Penjualan DFSK Super Cab di BaliDFSK Penjualan DFSK Super Cab di Bali

Ketika ditanya secara persentase porsi penjualan Super Cab diesel dan bensin, Cing Hok mengatakan bedanya cukup jauh, yakni 80 banding 20 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.