2 Hal Yang Kerap Disepelekan Pengendara Motor di Indonesia

Kompas.com - 24/05/2021, 17:21 WIB
Naik motor pakai sendal riauaktual.comNaik motor pakai sendal

JAKARTA, KOMPAS.com – Mengendarai sepeda motor bisa dibilang aktivitas yang sering dilakukan orang Indonesia. Motor kerap digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti bekerja atau hanya untuk pergi jarak dekat.

Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, ada saja yang kerap disepelekan ketika sedang mengendarai motor.

Hal yang disepelekan berikut ini selain dari helm yang tentunya sudah menjadi kewajiban pengendara motor untuk mengenakannya.

Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani mengatakan, kebiasaan yang masih sering dilakukan pengendara motor adalah terkait riding gear dan ketaatan pada aturan lalu lintas.

Baca juga: Ingat Ada Bahaya Mengintai di Gerbang Tol, Jangan Salah Pilih Pintu

Pilih sarung tangan yang aman dan nyaman digunakan. maximomoto.com Pilih sarung tangan yang aman dan nyaman digunakan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Untuk riding gear, penggunaan sarung tangan dan sepatu yang paling sering disepelekan. Apalagi pada kondisi tertentu seperti hujan, pengendara justru melepas sarung tangan dan sepatu,” ucap Agus kepada Kompas.com, Senin (24/5/2021).

Jika tidak menggunakan sarung tangan dan sepatu, kemungkinan cedera saat terjatuh dari motor akan sangat parah, bahkan bisa cacap tetap.

Ketika mengalami kecelakaan, bagian telapak tangan akan refleks melindungi tubuh saat motor terjatuh, begitu juga dengan kaki.

“Paling ringan, kuku di tangan atau kaki bisa saja terlepas saat kecelakaan. Paling parah tentu bisa saja kehilangan jari-jari tangan dan kaki karena tidak melindunginya dengan sarung tangan dan sepatu,” kata Agus.

Baca juga: Capirossi Sidak Sirkuit Mandalika, Saya Suka Sirkuit Ini

Viral, video Ibu-ibu lawan arusfacebook.com/BeritaInternet Viral, video Ibu-ibu lawan arus

Kemudian mengenai ketaatan pada aturan lalu lintas, masih banyak yang menyepelekan dengan melawan arus. Apalagi di daerah yang tidak ada petugas kepolisian atau tidak pernah ada penindakan pelanggaran.

“Karena kebiasaan dan tidak adanya pendidikan tentang berlalu lintas di sekolah, membuat pengendara berfikiran akan tertib jika pada situasi tertentu. Misalnya jika banyak petugas kepolisian yang berjaga,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X