Knalpot Aftermarket Dilarang, Penganggur Bisa Bertambah

Kompas.com - 06/04/2021, 15:41 WIB
Suasana pembuatan knalpot di salah satu rumah produksi di Jalan Kiswadi Desa Pesayangan Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017). Desa ini disebut desa knalpot karena sejumlah warganya memproduksi knalpot mobil dan motor. KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELISuasana pembuatan knalpot di salah satu rumah produksi di Jalan Kiswadi Desa Pesayangan Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017). Desa ini disebut desa knalpot karena sejumlah warganya memproduksi knalpot mobil dan motor.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengendara sepeda motor yang menggunakan knalpot aftermarket dinilai telah melanggar persyaratan teknis dan laik jalan. Sehingga, pihak kepolisan pun melakukan penindakan berupa penilangan.

Langkah tersebut menuai banyak pro dan kontra. Banyak yang mendukung, karena knalpot aftermarket memiliki suara yang keras. Sehingga, dianggap menganggu kenyamanan.

Baca juga: Siap-siap, Razia Knalpot Bising Juga Incar Mobil

Namun, di satu sisi, tidak semua knalpot aftermarket memiliki suara yang mengganggu kenyamanan.

Bahkan, beberapa produsen juga sudah memberikan solusi, seperti penggunaan dB killer dan lainnya.

Sejumlah bahan yang digunakan untuk pembuatan knalpot di salah satu rumah produksi di Jalan Kiswadi Desa Pesayangan Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017). Desa ini disebut desa knalpot karena sejumlah warganya memproduksi knalpot mobil dan motor.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Sejumlah bahan yang digunakan untuk pembuatan knalpot di salah satu rumah produksi di Jalan Kiswadi Desa Pesayangan Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017). Desa ini disebut desa knalpot karena sejumlah warganya memproduksi knalpot mobil dan motor.

Andi Akbar, builder Katros Garage, yang juga biasa membuat knalpot custom, mengatakan, jika dibaca di undang-undang memang sudah cukup jelas, mulai dari laik jalan dan lainnya.

"Tapi, jika diikuti bulat-bulat peraturannya, berarti akan ada banyak UKM yang pasti terganggu pendapatannya bahkan bisa tutup. Seharusnya, UU itu kan bisa mengakomodir semua," ujar pria yang akrab disapa Atenx, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini.

Atenx menambahkan, peraturannya belum bisa mengakomodir semua, baru mencakup satu sisi saja. Harusnya undang-undang bisa mengakomodir semua, sehingga pelaku usaha juga bisa berkembang.

Baca juga: Polisi Akui Razia Knalpot Bising Berdasarkan Suara Tidak Berlaku

"Orang beli knalpot racing kan tidak dirugikan, sebenarnya juga tidak merugikan orang lain. Tapi, kalau digeber-geber, baru itu mengganggu pengguna jalan lainnya. Kalau pakai knalpot racing tapi jalannya normal saja, orang lain juga tidak akan terganggu," kata Atenx.

Menurutnya, soal masalah kebisingan itu tergantung dari perilaku penggunanya. Dia mengibaratkan seperti pisau.

"Pisau dijual bebas, bisa dipakai untuk menusuk orang, tapi bisa dipakai juga untuk memasak. Jadi, tergantung dari penggunanya," ujar Atenx.

Suasana pembuatan knalpot di salah satu rumah produksi di Jalan Kiswadi Desa Pesayangan Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017). Desa ini disebut desa knalpot karena sejumlah warganya memproduksi knalpot mobil dan motor.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Suasana pembuatan knalpot di salah satu rumah produksi di Jalan Kiswadi Desa Pesayangan Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017). Desa ini disebut desa knalpot karena sejumlah warganya memproduksi knalpot mobil dan motor.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X