Rawan Kecelakaan, Kondisi Jalan di Subang Perlu Dikaji Ulang

Kompas.com - 21/01/2020, 09:42 WIB
Ilustrasi jalur berkelok di kawasan Ciater, Subang. tribunnews.comIlustrasi jalur berkelok di kawasan Ciater, Subang.

JAKARTA, KOMPAS.comBus pariwisata PO Purnamasari mengalami kecelakaan tunggal di turunan Kampung Nagrog, Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Subang, Sabtu (18/1/2020) lalu. Akibat peristiwa itu, 8 dari 61 penumpang dinyatakan tewas, sementara sisanya luka-luka.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Peruhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi, mengatakan, bus tersebut hilang kendali setelah sebelumnya melaju kencang.

“Penumpang sempat meminta sopir untuk memperlambat laju kendaraan, namun diperkirakan kendaraan hilang kendali sehingga sopir banting setir ke kanan, akibatnya bus terguling,” ujar Budi dalam keterangan resmi (19/1/2020).

Baca juga: Bus Pariwisata yang Rengut 8 Nyawa di Subang, Hasil Modifikasi

Bus pariwisata PO Purnamasari nomor polisi E 7508 W yang mengalami kecelakaan tunggal di jalan turunan Kampung Nagrog Desa Palasari Kecamatan Ciater, Subang, Sabtu (18/1/2020) sekitar pukul 17.35 WIB. Kecelakaan ini menyebabkan 8 orang meninggal, 10 orang luka berat dan 20 orang luka ringan.Dok Humas Polda Jabar Bus pariwisata PO Purnamasari nomor polisi E 7508 W yang mengalami kecelakaan tunggal di jalan turunan Kampung Nagrog Desa Palasari Kecamatan Ciater, Subang, Sabtu (18/1/2020) sekitar pukul 17.35 WIB. Kecelakaan ini menyebabkan 8 orang meninggal, 10 orang luka berat dan 20 orang luka ringan.

Kecelakaan yang terjadi di rute Subang-Bandung itu nyatanya bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya sudah cukup banyak kecelakaan terjadi di ruas jalan yang didominasi dengan medan turunan dan tanjakan.

Darmaningtyas, Ketua Institut Studi Transportasi (Instran), menilai sudah saatnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengkaji ulang jalanan di ruas Subang-Bandung, khususnya di sekitar daerah Ciater.

“Kalau saya lihat kecelakaan di daerah tersebut sudah berkali-kali terjadi, baik itu bus, truk, maupun kendaraan pribadi sudah pernah mengalami. Kalau sudah sangat sering, saya kira kesalahannya tidak lagi di pengemudi atau kendaraan,” ujarnya kepada Kompas.com (20/1/2020).

Baca juga: Fakta Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang, Pulang dari Tangkuban Perahu hingga 8 Penumpang Tewas

Jalur berkelok yang terkenal dengan sebutan Tanjakan Emen di Subang, Jawa Barat.Tribunnews.com Jalur berkelok yang terkenal dengan sebutan Tanjakan Emen di Subang, Jawa Barat.

“Kementerian PUPR perlu melakukan review terhadap ruas jalan tersebut. Dengan kondisi yang banyak tikungan dan turunan, memang harus dicarikan pemecahan masalahnya agar tidak terulang lagi,” kata Darmaningtyas.

Menurutnya, jalan di ruas Subang-Bandung misalnya bisa dibuat lebih landai agar turunan tidak terlalu curam. Atau dengan menambah rambu-rambu untuk mengingatkan pengemudi agar lebih waspada.

“Oleh karena itu perlu ada kajian lebih lanjut, agar bisa ketemu solusinya. Karena kecelakaan di sana bukan sekali atau dua kali terjadi, tapi sudah sering sekali,” ucapnya.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X