Cara Mencegah Sopir Angkutan Ugal-ugalan di Jalan

Kompas.com - 27/12/2017, 12:00 WIB
Kopaja 502 jurusan Kampung Melayu-Tanah Abang melintang di median jalan Brigjend Katamso, Jakarta Barat, Sabtu (21/6/2014). Akibatnya arah Tanah Abang-Kemanggisan macet total dan sebaliknya. Kompas.com/Kurnia Sari AzizaKopaja 502 jurusan Kampung Melayu-Tanah Abang melintang di median jalan Brigjend Katamso, Jakarta Barat, Sabtu (21/6/2014). Akibatnya arah Tanah Abang-Kemanggisan macet total dan sebaliknya.
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorAgung Kurniawan

 

Jakarta, KompasOtomotif - Untuk kesekian kalinya, kecelakaan maut akibat perilaku mengemudi ugal-ugalan sopir angkutan terjadi di Jakarta. Peristiwa terakhir melibatkan satu unit metromini yang terjadi di Velbak, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (22/12/2017).

Direktur Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, Yoga Adiwinarto menilai, berulangnya kasus seperti ini ditengarai akibat masih diberlakukannya sistem setoran. Sistem inilah yang dianggap membuat sesama sopir terpaksa harus berebut penumpang. Imbasnya tentu ke perilaku mengemudi yang tidak aman.

Yoga menyatakan sudah saatnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mereformasi total sistem angkutan umum di Ibu Kota. Ada beberapa cara yang dinilainya perlu dilakukan, yang pertama adalah integrasi pembayaran. Cara ini dianggap paling memungkinkan untuk dilakukan karena Pemprov DKI di bawah rezim yang baru punya program transportasi yang belum lama ini diperkenalkan ke publik, yakni One Karcis One Trip atau OK-OTRIP.

Baca juga : Mau Sampai Kapan Sopir Angkutan Dibiarkan Ugal-ugalan di Jalan?

 

Kondisi beberapa bus metromini yang diamankan oleh Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta di Komplek Terminal Bus Rawa Buaya, Jakarta Barat, Selasa (22/12/2015). 














Andri Donnal Putera Kondisi beberapa bus metromini yang diamankan oleh Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta di Komplek Terminal Bus Rawa Buaya, Jakarta Barat, Selasa (22/12/2015).

Dalam sistem ini, seluruh angkutan di Jakarta akan diintegrasikan ke dalam satu pembayaran. Pengusaha akan menerima subsidi dari pemerintah, sehingga sopir bisa menerima gaji.

Menurut Yoga, pengusaha angkutan yang menerima subsidi wajib memenuhi standar angkutan yang aman dan nyaman. Bila cara ini sudah dilakukan, maka Pemprov DKI harus mengakuisisi trayek. Sehingga trayek ditentukan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan diatur langsung oleh pemerintah. Bukan membiarkan pengusaha menentukan sendiri trayeknya.

"Upgrade armada yang lebih modern dan aman, kontrak pengemudi dan pengusaha yang lebih ketat. Bukan lagi model izin trayek seperti sekarang," kata Yoga kepada KompasOtomotif, Selasa (26/12/2017).

Baca juga : Ugal-ugalan Penyebab Utama Kecelakaan di Jalan

Kondisi beberapa bus metromini yang diamankan oleh Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta di Komplek Terminal Bus Rawa Buaya, Jakarta Barat, Selasa (22/12/2015). 














Andri Donnal Putera Kondisi beberapa bus metromini yang diamankan oleh Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta di Komplek Terminal Bus Rawa Buaya, Jakarta Barat, Selasa (22/12/2015).

Menurut Yoga, cara peremajaan angkutan seperti yang sudah diterapkan dalam integrasi kopaja AC dengan transjakarta sudah baik. Akan tetapi, Yoga menganggap peremajaan ini tidak diimbangi dengan ketegasan untuk mengharuskan kopaja lama untuk berhenti beroperasi. Sebab dalam kenyataannya masih banyak kopaja tidak layak jalan yang masih beroperasi. Untuk itu Yoga menilai ke depannya Pemprov DKI harus menerapkan peraturan yang tegas.

"Kalau untuk saat ini, reward dan punishment untuk operator angkutan umum non transjakarta secara praktis tidak ada," ucap Yoga.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X