Mau Sampai Kapan Sopir Angkutan Dibiarkan Ugal-ugalan di Jalan?

Kompas.com - 27/12/2017, 09:02 WIB
Sejumlah Kopaja berebut penumpang di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat pada Kamis (25/6/2015) sore. Aldo FenalosaSejumlah Kopaja berebut penumpang di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat pada Kamis (25/6/2015) sore.
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif - Kecelakaan maut akibat sopir angkutan yang ugal-ugalan dalam mengemudi kembali terjadi di Jakarta, Jumat (22/12/2017). Satu unit metromini menabrak sejumlah kendaraan di kawasan Velbak, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Salah seorang pengendara motor, FX Febriantoro tewas akibat peristiwa tersebut.

Saat kejadian, Febriantoro sedang berhenti di pinggir jalan. Ia ditabrak metromini yang sudah kehilangan kendali setelah sebelumnya sang sopir, Agus Santoso terlibat aksi kebut-kebutan dengan angkutan lainnya.

Kecelakaan maut seperti ini sebenarnya bukan yang pertama kalinya terjadi. Desember 2015, anak tujuh tahun bernama Azam Flamboyan tewas tertabrak metromini di Meruya Utara, Jakarta Barat. Saat itu, Azam ditabrak saat tengah bersama ibunya berdiri di pinggir jalan menunggu angkot lewat.

Tiba-tiba, sebuah metromini yang dikemudikan Denny hilang kendali setelah sebelumnya menabrak sebuah tiang listrik. Seperti kasus di Velbak, Denny juga sempat terlibat aksi kebut-kebutan dengan angkutan lain sebelumnya terjadinya tabrakan.

Baca juga : Diawali Saling Salip dan Rebutan Penumpang, Dua Sopir Kopaja Baku Hantam

Kopaja 502 jurusan Kampung Melayu-Tanah Abang melintang di median jalan Brigjend Katamso, Jakarta Barat, Sabtu (21/6/2014). Akibatnya arah Tanah Abang-Kemanggisan macet total dan sebaliknya.Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Kopaja 502 jurusan Kampung Melayu-Tanah Abang melintang di median jalan Brigjend Katamso, Jakarta Barat, Sabtu (21/6/2014). Akibatnya arah Tanah Abang-Kemanggisan macet total dan sebaliknya.

Jika ditarik lagi ke belakang, pada September 2013, dua buah kopaja yang tengah kebut-kebutan bertabrakan di Jalan Jembatan Gantung, Cengkareng, Jakarta Barat. Akibatnya ada dua orang penumpang yang ada di dalam bus tewas.

Direktur Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, Yoga Adiwinarto menilai ugal-ugalannya perilaku mengemudi sopir angkutan dipicu masih diterapkannya sistem setoran. Sistem inilah yang membuat sopir saling berebut penumpang dengan rekan seprofesinya yang lain.

Tanpa Ketegasan

Menurut Yoga, sejak 2012 pihaknya sudah menyerukan agar sistem setoran dihapus. Namun Yoga menilai Pemprov DKI tidak punya ketegasan hingga kecelakaan maut terus menerus berulang.

Bus Kopaja 95 bernopol B 7762 DG saat diamankan di Kantor Samsat Jakarta Barat, Kamis (5/8/2013). Bus ini mengalami kecelakaan setelah menabrak sebuah truk usai kebut-kebutan dengan bus Kopaja 88 bernomor polisi 7357 LE di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, Rabu (4/9/2013)Alsadad Rudi Bus Kopaja 95 bernopol B 7762 DG saat diamankan di Kantor Samsat Jakarta Barat, Kamis (5/8/2013). Bus ini mengalami kecelakaan setelah menabrak sebuah truk usai kebut-kebutan dengan bus Kopaja 88 bernomor polisi 7357 LE di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, Rabu (4/9/2013)

"Dari 2012 tidak ada kemajuan. Implementasinya masih setengah-setengah. Ini membuktikan tidak adanya ketegasan dan kurangnya perencanaan komprehensif dari Dishub dalam memperbaiki angkutan," kata Yoga kepada KompasOtomotif, Selasa (26/12/2017).

Yoga mengakui Pemprov DKI sudah berupaya memperbaiki angkutan umum, salah satunya dengan mendorong pengusaha angkutan untuk meremajakan kendaraannya. Seperti dalam peremajaan ratusan Kopaja yang kemudian bergabung dalam manajemen Transjakarta.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X