Ugal-ugalan Penyebab Utama Kecelakaan di Jalan

Kompas.com - 30/09/2014, 10:55 WIB
Motor milik mahasiswa Jayabaya, Ruben, yang tewas dalam kecelakaan di fly over Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur. Kekasih Ruben, Peggy selamat namun terluka dalam kejadian tersebut. Selasa (26/8/2014). Kompas.com/Robertus BelarminusMotor milik mahasiswa Jayabaya, Ruben, yang tewas dalam kecelakaan di fly over Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur. Kekasih Ruben, Peggy selamat namun terluka dalam kejadian tersebut. Selasa (26/8/2014).
|
EditorAris F. Harvenda

Semarang, KompasOtomotif - Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan kematian di jalan (fatalitas) akibat kecelakaan hingga 50 persen periode 2010-2020. Sejumlah upaya dilakukan termasuk menyinergikan para pemangku kepentingan (stakeholder).

"Sebagai tahun basis adalah fatalitas 2010, yakni 31.234 korban jiwa. Harus ubah etika kita agar lebih empati terhadap korban kecelakaan di jalan, " jelas Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Bambang Susantono, dalam seminar nasional “Kesiapan Pemerintah dalam Implementasi UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas” di Kampus Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang, Senin (29/9/2014).

Menurut Wamenhub, keselamatan di jalan adalah suatu keharusan, bukan pilihan. Karena itu, perlu ada penyebarluasan etika berlalu lintas mengingat saat ini ada tendensi kian tingginya pelanggaran aturan di jalan. "Mahasiswa jadi ujung tombak untuk keselamatan di jalan. Jalan raya milik semua. Jalan raya adalah ruang sosial," lanjut Bambang.

Data Korlantas Polri membeberkan 41 persen korban kecelakaan lalu lintas jalan adalah rentang usia 16-30 tahun. Sedangkan 27 persen pemicu kecelakaan adalah kelompok usia yang sama. Ironisnya, sekitar 42 persen kasus kecelakaan dipicu oleh perilaku berkendara yang ugal-ugalan. Selebihnya perpaduan dari aspek manusia lainnya, seperti lengah dan ngantuk, serta faktor jalan, kendaraan, dan alam.

Mahasiswa
Edo Rusyanto, Ketua Umum Road Safety Association (RSA) Indonesia mengatakan, mahasiswa dapat menjadi generasi pendobrak dalam mengubah mentalitas jalan pintas. Perilaku menerabas aturan di jalan merupakan ciri enggan antre.

"Hal ini yang mendasari terjadinya perilaku ugal-ugalan di jalan yang ironisnya menjadi pemicu utama kecelakaan di jalan, yakni sekitar 42 persen," beber Edo yang juga penulis buku "Menghapus Jejak Roda" itu.

Selain itu, lanjut Edo, pemicu lain yang mutlak diperhatikan pemerintah untuk mengurangi tingkat kematian, adalah faktor jalan. Mulai dari jalan yang rusak, berlubang, licin, hingga yang tidak berpenerangan jalan. "Dalam 10 tahun terakhir, terjadi peningkatan korban yang tewas akibat kecelakaan. Jika pada 2004 rata-rata tiap hari sekitar 31 jiwa tewas, pada 2013 sekitar 72 jiwa tewas per hari," tukas Edo.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.