Memahami Fungsi "Catalytic Converter"

Kompas.com - 30/01/2014, 15:08 WIB
Konverter katalitik dan sensor oksigen  pada mesin Agya dan Ayla, diintegrasikan pada sistem saluran buang (exhaust) Zulkifli BJKonverter katalitik dan sensor oksigen pada mesin Agya dan Ayla, diintegrasikan pada sistem saluran buang (exhaust)
Penulis Zulkifli BJ
|
EditorZulkifli BJ
www.alliedmuffler.com Cara kerja katalitik konverter

KompasOtomotif — Konverter katalisis atau catalytic converter (CC) tidak terlalu banyak diketahui kalangan awam. Perangkat ini mulai digunakan di setiap mobil baru di Indonesia pada 2007. Saat itu, standar Euro2 diberlakukan untuk gas buang. Untuk memenuhi standar tersebut, setiap kendaraan bermesin diesel dan bensin harus menggunakannya. Tentu saja ini termasuk mobil paling laris di Indonesia, Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia, dan terakhir pada LCGC Ayla dan Agya.

Mahal
CC berupa katalisator yang dipasang di ruang setelah saluran buang. Fungsinya menyaring hidrokarbon (bensin yang belum atau tidak terbakar) dan polutan lain yang dihasilkan oleh mesin. Hanya sebagian kecil orang yang tahu, katalisator ini harganya mahal. Pasalnya, ia dibuat dari bahan platinum (platina) dan paladium. Karena itu pula, bisnis pengumpulannya (daur ulang) berkembang, termasuk di Tanah Air.

Beberapa tahun lalu di Amerika Serikat, perangkat ini jadi sasaran pencuri. Lebih khusus lagi, yang dicuri kebanyakan dari SUV berpostur tinggi. Salah satu keuntungannya, kotak atau tempat CC berada di kolong. Di Indonesia, beberapa produsen Jepang cukup cerdik. Mereka menempatkan langsung CC setelah area pembuangan gas di dekat blok mesin, dan disatukan dengan rumah sensor oksigen. Hal ini tentu saja membuat maling tidak mudah untuk mencomotnya!

Cara kerja
Katalisator CC adalah saringan berbentuk sarang lebah yang dibuat dari logam platinum atau paladium yang disatukan melalui blok keramik. Ketika gas buang menyentuh logam (katalisator), reaksi kimia terjadi berupa penghilangan beberapa kandungan atau senyawa yang berbahaya, seperti hidrokarbon (HC). Alhasil, gas buang yang keluar dari knalpot bisa lebih bersih. Sementara itu, logam yang digunakan sebagai katalisator tidak berubah sifat.

Kendati demikian, berdasarkan penelitian, umur pakai logam yang digunakan pada CC juga mengalami degradasi (penurunan kemampuan). Pada komponen saat ini, setelah digunakan 100.000 km, kemampuannya menurun 35 persen.

Bila diukur berdasarkan lamanya mesin hidup berdasarkan jarak, maka usianya bisa saja lebih pendek. Pasalnya, kemacetan semakin parah sehingga mesin bekerja lebih lama (termasuk CC), sementara jarak tempuh mobil lebih sedikit. Di lain hal, nilai logam yang digunakan pada CC bisa mencapai 60 persen-70 persen dari total harga CC.

Sebagai contoh, kalau dijual sebagai komponen pengganti atau onderdil (suku cadang) oleh perusahaan mobil dengan harga Rp 5 juta, maka nilai katalisatornya saja Rp 3 juta–Rp 3,5 juta! 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X