“Carbon Tax” Bisa Mengerdilkan Perakit Mobil di Indonesia - Kompas.com

“Carbon Tax” Bisa Mengerdilkan Perakit Mobil di Indonesia

Ghulam Muhammad Nayazri
Kompas.com - 21/04/2017, 08:22 WIB
cumminsforum.com Ilustrasi kepulan aspa hitam mobil diesel

Jakarta, KompasOtomotif – Wacana pemberlakuan pajak kendaraan bermotor berdasarkan emisi karbon atau carbon tax, ternyata masih sedikit mengganjal pihak Gabungan Industri Kedaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Curhatan Gaikindo tersebut diutarakan di sela-sela diskusi mengenai roadmap industri kendaraan yang dikaitkan dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan target penurunan Gas Rumah Kaca (GRK), di Jakarta, Kamis (20/4/2017).

Bahkan disebut kalau carbon tax bisa jadi adil kepada merek-merek yang punya pabrik di Indonesia, jika tidak disusun dengan beberapa modifikasi.

Gambaran kasarnya, pajak berdasarkan emisi dihitung dari berapa gram emisi karbon yang dikeluarkan kendaraan dalam satu kilometer, atau gram per kilometer (g/km CO2). Jika mentah-mentah seperti itu, maka mobil yang diproduksi dalam negeri bisa kedodoran, karena dianggap bisa kena pajak lebih besar.

“Kalau sekarang mesin yang dibuat di luar negeri dan diimpor lebih bagus teknologinya, yang tentu emisi gram per kilometernya akan kecil. Sementara di dalam negeri masih menggunakan teknologi lima tahun lalu. Jadi mereka yang tergolong mobil mewah bisa kena pajak murah, sedangkan kami di sini bisa lebih mahal karena emisinya misalnya bisa sampai 200 g/km, sementara mereka 100 g/km,” ujar Jongkie D Sugiarto, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kamis (20/4/2017).

“Pasalnya, produsen dalam negeri juga sudah investasi besar di sini, membuka lapangan kerja dan lainnya,” ucap Jongkie.

Modifikasi

Meski begitu, Jongki bersama dengan Gaikindo setuju dengan carbon tax, tapi jika memang komposisi regulasinya tidak merugikan. Mereka juga tidak lantas tinggal diam, tapi sedang melakukan kajian dan simulasi, terkait penyesuaian tarif tersebut.

“Idealnya bagaimana? misalnya dengan mengkategorikan ukuran mesin saja. Jadi yang ukuran mesinnya 1.000cc misalnya, akan dikenakan berapa pajak emisinya, kemudian makin tinggi juga ditentukan berapa dan seterusnya, bisa kan dibedah-bedah lagi,” ucap Jongkie.

“Jadi supaya fair, terhadap teknologi yang sekarang ini. Ini bisa berlaku sampai produsen dalam negeri meningkatkan teknologi mesinnya,” kata Jongkie.

PenulisGhulam Muhammad Nayazri
EditorAgung Kurniawan
Komentar
Terkini Lainnya
Mesin EcoBoost Ford Menang Penghargaan Lagi
Mesin EcoBoost Ford Menang Penghargaan Lagi
Teknologi
Bus Tingkat Jurusan Baru, Bogor-Wonogiri
Bus Tingkat Jurusan Baru, Bogor-Wonogiri
Niaga
Takata Akhirnya Bangkrut
Takata Akhirnya Bangkrut
News
Mengenal Toyota Aygo Edisi Khusus
Mengenal Toyota Aygo Edisi Khusus
Produk
Ingat, Arus Balik Lebih Rawan Kecelakaan
Ingat, Arus Balik Lebih Rawan Kecelakaan
Feature
Kerasnya Perjuangan Arus Balik, Ini Antisipasinya
Kerasnya Perjuangan Arus Balik, Ini Antisipasinya
Feature
Prediksi Arus Balik Aman dari Menhub
Prediksi Arus Balik Aman dari Menhub
News
BMW X3 Meluncur dengan Paket Paling Bertenaga
BMW X3 Meluncur dengan Paket Paling Bertenaga
Produk
3 Hal yang Menurunkan Harga Jual Mobil Bekas
3 Hal yang Menurunkan Harga Jual Mobil Bekas
Feature
GPS Mobil Bikin Frustrasi?
GPS Mobil Bikin Frustrasi?
Feature
Auto2000 Selektif Pilih Konsumen
Auto2000 Selektif Pilih Konsumen
News
Konsumen Kia Paling Santai, Mitsubishi Paling 'Bawel'
Konsumen Kia Paling Santai, Mitsubishi Paling "Bawel"
News
BBM Kemasan Pertamina Laris Diserbu Pemudik
BBM Kemasan Pertamina Laris Diserbu Pemudik
News
Antara Konflik dan Keberuntungan Ricciardo di F1 Baku
Antara Konflik dan Keberuntungan Ricciardo di F1 Baku
Sport
Tabrak Hamilton, Vettel Terancam Dilarang Balap
Tabrak Hamilton, Vettel Terancam Dilarang Balap
Sport
Close Ads X