Peralihan Era Elektrifikasi Kendaraan di Indonesia Bakal Alamiah

Kompas.com - 07/09/2022, 09:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo meyakini bahwa transisi penggunaan kendaraan bermotor listrik di Indonesia akan terjadi secara alamiah dan optimal seiring dengan pemerataan edukasinya.

"Karena market itu membutuhkannya," kata dia dalam keterangannya, Selasa (6/9/2022).

Salah satu indikatornya, ada pemesanan mobil listrik yang sudah memasuki masa tunggu sampai tiga bulan sejak pemesanan pertama. Artinya, permintaan dari pasar lebih tinggi daripada suplai pabrikan.

Baca juga: Daya Beli Mobil Konsumen Indonesia Ada di Angka Rp 300 Jutaan

SPKLU PLNPLN SPKLU PLN

Hanya saja memang untuk terus meningkatkan daya beli dan ketertarikan atas kendaraan listrik, khususnya roda empat, masih butuh berbagai hal yang perlu digencarkan seperti fasilitas pendukung dan insentif pembelian.

"Sekarang, animo masyarakat cukup tinggi," kata Darmawan.

Sejalan dengan itu, PLN akan terus menggencarkan membangun ekosistemnya dengan baik dalam hal penyediaan sarana pengisian daya. Namun diakui untuk melakukannya tidak bisa sendirian.

Tetapi, juga perlu menggandeng pihak ketiga seperti berbankan, perkantoran, pasar modern alias mal, atau bahkan kedai-kedai kopi.

Baca juga: Istana Presiden RI Mulai Pakai Kendaraan Listrik Berbasis Baterai

Foto stok: Motor listrikKOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Foto stok: Motor listrik

"Agar pembangunan SPKLU tidak hanya dari PLN saja. Lahan kami tak banyak, tidak cukup, tidak strategis, tapi pihak-pihak ketiga itu punya dan bisa diajak kerja sama," paparnya.

Ia menambahkan, jenis kendaraan ini juga punya beragam kelebihan. Misalnya, kendaraan konvensional memakan biaya sekitar Rp 15.000 per liter dan apabila dibandingkan kendaraan listrik pada kisaran Rp 2.000 per liter.

Dari tingkat emisi karbon, kendaraan konvensional menyisihkan sekitar 2,4 kg karbon untuk setiap liter bensin sementara kendaraan listrik hanya 1,2 kg saja.

"Sementara per liter listrik emisi karbonnya sekitar 1,2 kg, turun 50 persen. Itu kalau listriknya dari batu bara. Tapi listrik kami sudah berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang porsinya akan meningkat. Jadi tentu saja penurunannya jauh lebih drastis seiring berjalannya waktu," ujar dia.

Baca juga: Mobil Bekas Km Rendah Punya Nilai Tawar Tinggi

Selain itu, Darmawan menyebut kebutuhan energi bagi kendaraan berbasis bahan bakar minyak lebih dari 60 persen harus dipenuhi dari impor.

Sedangkan listrik semuanya bisa dari domestik seperti gas, batu bara, sampai EBT. Sehingga pengurangan impor bisa lebih maksimal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.