Pengemudi Bus Kelelahan Bisa Jadi Penyebab Kecelakaan di Jalan

Kompas.com - 06/09/2021, 12:42 WIB
Kecelakaan bus di Jalan Tol Meruya, Kembangan, Jakarta Barat pada Rabu (1/9/2021) Instagram.com/@jakartabarat24jamKecelakaan bus di Jalan Tol Meruya, Kembangan, Jakarta Barat pada Rabu (1/9/2021)

JAKARTA, KOMPAS.comKecelakaan bus di Indonesia bisa dibilang sering terjadi. Misalnya seperti bus Sugeng Rahayu yang belum lama ini menabrak motor di daerah Kabupaten Madiun.

Bus di Indonesia biasanya memiliki trayek yang jauh, sehingga ada dua pengemudi yang bertugas secara bergantian. Sehingga ketika salah satu pengemudi kelelahan, bisa bergantian dan perjalanan tetap bisa dilanjutkan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29 tahun 2015, pengemudi diminta untuk beristirahat maksimal 15 menit setelah mengemudi dua jam berturut-turut. Namun, nampaknya di lapangan, aturan mengenai istirahat ini tidak diikuti.

Baca juga: Polisi Sekat Kendaraan yang Menuju Pantai Anyer dan Carita

 Bus Sugeng Rahayu kembali mengalami kecelakaan di Kabupaten Ngawi. Bus dilaporkan melaju kencang sebelum terperosok ke dalam hutan jati dan terguling.KOMPAS.com/DOK POLRES NGAWI Bus Sugeng Rahayu kembali mengalami kecelakaan di Kabupaten Ngawi. Bus dilaporkan melaju kencang sebelum terperosok ke dalam hutan jati dan terguling.

Sehingga ada juga pengemudi bus yang kelelahan saat bekerja. Padahal ketika sedang tidak prima, pengemudi bus bisa membahayakan semua penumpang maupun pengguna jalan lain.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia Sony Susmana mengatakan, perusahaan bus hanya menentukan target ketibaan dengan toleransi yang sedikit, sehingga waktu istirahat kerap disepelekan.

“Dalam satu kali perjalanan, idealnya tiga sampai empat jam mengemudi diselingi dengan istirahat. Tapi kenyataannya, jauh-dekat hanya satu kali beristirahat, ini yang jadi masalah,” ucap Sony kepada Kompas.com, Minggu (5/9/2021).

Baca juga: PO Murni Jaya Buka Trayek Baru Yogya Tangerang Tiket Rp 200.000

Sony menjelaskan, mengemudikan bus dalam kondisi lelah bisa mengakibatkan dua hal, overthinking dan micro sleep. Overthinking di sini maksudnya adalah pengemudi yang tidak bisa berpikir jernih, sehingga perilakunya menjurus tidak terkontrol.

“Mereka memaksakan untuk tetap bugar dengan minum energy drink. Ketika badan lelah dan dipaksakan dengan bermacam cara, pasti berbuah overthink dan overact, yang akhirnya menjadi agresif di jalan,” kata Sony.

Kemudian micro sleep bisa dialami saat pengemudi sangat kelelahan. Sehingga otak tertidur namun fisiknya tetap normal, sehingga bisa berakibat kecelakaan yang fatal.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.