Potensi dan Tantangan Indonesia Menerjang Era Kendaraan Listrik

Kompas.com - 25/06/2021, 11:02 WIB
Taiwan rajai industri mobil listrik Dok. Pixabay.comTaiwan rajai industri mobil listrik

JAKARTA, KOMPAS.com - Era kendaraan bermotor listrik berbasis baterai atau electrified vehicle (EV) dan energi baru terbarukan diyakini semakin dekat seiring berkembangnya isu lingkungan dan tren dunia.

Bahkan, kini beberapa pabrikan otomotif raksasa mulai melakukan pergerakkan agar bisa menjadi pemain pertama dan utama dalam isu tersebut melalui studi komperhensif hingga pembuatan pabrik.

Tak ingin tertinggal, Pemerintah RI lewat Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun terus mendorong menyambut masa elektrifikasi global. Apalagi, otomotif merupakan salah satu sektor prioritas di dalam negeri.

Baca juga: Kendala Driver Ojol Saat Ingin Punya Motor Listrik

Ilustrasi tempat pengecasan mobil listrik.PIXABAY.com Ilustrasi tempat pengecasan mobil listrik.

Pengembangan kendaraan listrik diatur melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 27 Tahun 2020 tentang Spesifikasi Teknis, Roadmap EV dan Perhitungan Kandungan Lokal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Industri otomotif merupakan salah satu sektor prioritas berdasarkan peta jalan 'Making Indonesia 4.0'," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Kamis (24/6/2021)

"Sasaran utamanya, Indonesia akan menjadi ekspor hub kendaraan bermotor, baik untuk kendaraan berbasis bahan bakar minyak (internal combustion engine/ICE) maupun kendaraan listrik,” lanjut dia.

Hanya saja, untuk mencapai target tersebut tidak mudah. Memang, Indonesia memiliki beberapa potensi dan kelebihan, tapi di sisi lain terdapat beragam tantangan pula.

Dikatakan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier, salah satu keunggulan Indonesia untuk bisa menjadi pemain utama di kendaraan listrik ialah ketersediaan bahan baku baterai berupa nikel dan kobalt.

“Permintaan EV di dunia diperkirakan terus meningkat dan akan mencapai sekitar 55 juta unit pada tahun 2040. Pertumbuhan ini tentunya mendorong peningkatan kebutuhan baterai lithium ion (LiB),” kata Taufiek.

Baca juga: Wacana Tarif Parkir Rp 60.000 Per Jam di DKI, Kapan Mulai Berlaku?

Pertamina resmikan SPKLU komersial pertamanya di FatmawatiPertamina Pertamina resmikan SPKLU komersial pertamanya di Fatmawati

Meningkatnya penggunaan baterai juga mendorong peningkatan pada bahan bakunya, sehingga negara dengan sumber bahan baku baterai ini nantinya memegang peranan sangat penting.

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X