Tak Ada Landasan Hukum, Begini Cara Hadapi Konvoi Ambulans Escorting

Kompas.com - 16/03/2021, 16:02 WIB
Mobil ambulans membawa pasien Covid-19 berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG)  di Ibis Style hotel di Mangga Dua, Jakarta Pusat, Selasa (29/9/2020). Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta, Krisnadi mengatakan sebanyak 4.116 kamar dari 30 hotel di Jakarta siap untuk menampung pasien COVID-19 dengan kategori OTG. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGMobil ambulans membawa pasien Covid-19 berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG) di Ibis Style hotel di Mangga Dua, Jakarta Pusat, Selasa (29/9/2020). Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta, Krisnadi mengatakan sebanyak 4.116 kamar dari 30 hotel di Jakarta siap untuk menampung pasien COVID-19 dengan kategori OTG.
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Kendaraan jenis ambulans masuk dalam satu dari tujuh kendaraan yang mendapat prioritas di jalan. Meski begitu, masih banyak orang yang acuh tak acuh saat melihat ambulans yang meminta jalan.

Dalam pasal 134 UU LLAJ dinyatakan bahwa hanya ada tujuh kendaraan yang mendapatkan hak utama untuk didahulukan

Pemerhati Masalah Transportasi Budiyanto, mengatakan, dalam pasal 134 Undang-Undang No 22 Tahun 2009 tentang LLAJ, disebutkan bahwa ambulans berhak memperoleh keistimewaan di jalan.

Baca juga: Sri Mulyani Buka Peluang Insentif Pajak bagi Innova dan Fortuner

Komunitas motor pengawal ambulans, Indonesia Escorting Ambulance (IEA)Instagram @IEA_Depok Komunitas motor pengawal ambulans, Indonesia Escorting Ambulance (IEA)

“Kendaraan prioritas ini berhak memperoleh pengawalan dengan menggunakan kendaraan bermotor yang dilengkapi lampu isyarat warna merah atau biru serta sirene,” ucap Budiyanto, kepada Kompas.com (15/3/2021).

Oleh sebab itu, ambulans butuh pengawalan polisi agar perjalanannya lebih aman dan cepat sampai tujuan. Namun jumlah ambulans yang beroperasi barangkali tak sebanding dengan jumlah polisi yang bertugas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal inilah yang membuat masyarakat ambil solusi dengan menggunakan ambulans escorting atau jasa pengawalan swasta yang biasanya diinisiasi komunitas motor.

Baca juga: Rocky Jadi Mobil CVT Pertama Daihatsu di Indonesia

Komunitas motor pengawal ambulans, Indonesia Escorting Ambulance (IEA)Instagram @IEA_Depok Komunitas motor pengawal ambulans, Indonesia Escorting Ambulance (IEA)

Mereka ini yang bertugas selayaknya petugas kepolisian, yang melakukan pengawalan di jalan, antar-jemput, hingga buka jalan jika kondisi macet.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana, mengatakan, jasa pengawalan swasta tidak memiliki landasan hukum untuk melakukan pengawalan. Sebab mereka tak memiliki hak diskresi seperti petugas kepolisian.

“Jangan sampai yang bersangkutan mengawal tapi berujung masalah dengan pengguna jalan lain. Menurut saya enggak efektif, karena mereka tidak punya skill, teknik atau cara, dan pengetahuan tentang pengawalan” ujar Sony, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Baca juga: Tren Pengemudi Bus Pakai Seragam, Ada yang Mirip Pilot

Satuan Brimob Polda Sumatera Selatan melakukan pengawalan ketat saat pendistribusian vaksin Covid-19 produksi Sinovac yang akan dikirim ke gudang milik Dinas Kesehatan Kota Palembang, Selasa (12/1/2021). Pada tahap pertama ini, Kota Palembang akan mendapatkan sebanyak 23.600 dosis vaksin Sinovac.KOMPAS.com/AJI YK PUTRA Satuan Brimob Polda Sumatera Selatan melakukan pengawalan ketat saat pendistribusian vaksin Covid-19 produksi Sinovac yang akan dikirim ke gudang milik Dinas Kesehatan Kota Palembang, Selasa (12/1/2021). Pada tahap pertama ini, Kota Palembang akan mendapatkan sebanyak 23.600 dosis vaksin Sinovac.

Sony juga mengatakan, hal ini malah bisa menciptakan masalah baru di jalan, meski niat awalnya baik. Oleh sebab itu, masyarakat diminta untuk menghubungi petugas berwenang jika perlu pengawalan.

“Justru yang penting adalah sosialisasi kepada masyarakat dalam memberikan prioritas bagi ambulans,” ucap Sony.

“Tapi kita sebagai pengemudi defensive harus kasih jalan, kita prinsipnya mengalah dan menjauh dari provokasi. Menghalang-halangi jalan orang lain yang ingin menyusul kan enggak ada gunanya juga,” tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.