BBM Oktan Tinggi Tak Selamanya Lebih Baik dari Premium

Kompas.com - 16/11/2020, 13:02 WIB
Semakin banyak orang yang menggunakan bensin non subsidi. Kontan/MuradiSemakin banyak orang yang menggunakan bensin non subsidi.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Mobil keluaran baru di atas tahun 2000, umumnya sudah memiliki spesifikasi mesin yang berbeda. Dengan tingkat kerapatan yang makin persisi membuat kompresi mesin pun lebih padat.

Alhasil, ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Mulai dari pelumas yang lebih cair, sampai anjuran soal masalah pemakaian bahan bakar minyak ( BBM) yang wajib menggunakan oktan tinggi layaknya RON 92.

Namun perlu digarisbawahai, bukan berarti BBM oktan tinggi itu lebih baik dari Premium atau oktan rendah. Pasalnya, meski diklaim ramah lingkungan dan bisa menghasilan performa lebih baik, tapi BBM oktan tinggi tak bisa dikonsumsi sembarangan oleh mobil lawas.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Konsumsi BBM Mobil Baru yang Pakai Premium Jadi Boros

"Bila (mobil lawas) tak disesuaikan maka akan ada masalah karena pembakarannya justru nanti tidak sempurna. Kerugian dipengguna kendaraan, karena pasti akan ada perawatan lebih karena banyaknya kerak yang mengendap di ruang mesin," Executive Coordinator Technical Service Division PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Bambang Supriyadi, Minggu (15/11/2020).

Ilustrasi SPBUKOMPAS/PRIYOMBODO Ilustrasi SPBU

Secara tidak langsung, BBM oktan tinggi memang baik dikunsumsi oleh mobil baru yang memiliki tingkat kompresi lebih padat. Tapi lain ceritanya untuk mobil dengan kompresi yang masih di bawah 10.

Nurkholis, National Technical Leader PT Toyota Astra Motor, mengatakan, pembakaran BBM tidak akan sempurna saat nilai oktan yang dikandung lebih rendah atau lebih tinggi dari rekomendasi pabrikan.

Baca juga: Awal 2021 Pertamina Tak Lagi Jual BBM Jenis Premium?

Menurut Nurkholis, pihak pabrikan menyarankan nilai oktan sesuai rekomendasi agar pembakaran BBM dapat dikontrol. Indikator pembakaran yang bisa dikontrol adalah saat bensin terbakar habis waktu proses pengapian.

Ilustrasi SPBUTRIBUNNEWS/HERUDIN Ilustrasi SPBU

"Kalau tidak terbakar secara sempurna, maka akan ada sisa-sisa partikel yang tidak habis terbakar. Sisa pembakaran itu akan berefek pada emisi, sensor tertutup kerak, dan lain sebagainya," ucap Nurkholis.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X