Pemudik Mayoritas Nekat Mengendarai Sepeda Motor Selama Pandemi

Kompas.com - 26/05/2020, 08:02 WIB
Pemudik sepeda motor di jalur pantura di sekitar Simpang Jomin, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tahun lalu.  KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWANPemudik sepeda motor di jalur pantura di sekitar Simpang Jomin, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tahun lalu.

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Meskipun pemeritah telah melarang mudik, nyatanya masih banyak warga yang nekat dan berusaha mencapai kampung halaman, terutama saat menjelang hari raya Lebaran.

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengungkapkan bahwa orang yang nekat mudik selama pandemi Covid-19, kebanyakan mengendarai sepeda motor.

Djoko Setijowarno, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat, mengatakan, sepeda motor banyak dipilih karena mereka yang mudik umumnya merupakan kelas masyarakat menengah ke bawah.

Baca juga: Arus Mudik 2020, Tercatat 465.000 Kendaraan Meninggalkan Jakarta

 

Petugas kepolisian mengarahkan kendaraan pribadi yang melintas di tol Jakarta-Cikampek untuk keluar melalui pintu tol Cikarang Barat 3, Jawa Barat, Kamis (21/5/2020). Pengalihan tersebut sebagai upaya penyekatan gelombang pemudik jelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1441 H dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah.ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI Petugas kepolisian mengarahkan kendaraan pribadi yang melintas di tol Jakarta-Cikampek untuk keluar melalui pintu tol Cikarang Barat 3, Jawa Barat, Kamis (21/5/2020). Pengalihan tersebut sebagai upaya penyekatan gelombang pemudik jelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1441 H dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah.

Sementara, mayoritas kendaraan umum dibatasi, pilihan yang tersedia tentu menggunakan kendaraan pribadi. Dan kendaraan yang paling terjangkau dan banyak dimiliki mereka adalah motor.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemudik ini didominasi kelompok masyarakat yang bekerja di sektor informal berpenghasilan harian. Tabungan semakin menipis, sementara tempat mata pencaharian belum menunjukkan aktivitas nyata,” ujar Djoko, dalam keterangan tertulis (25/5/2020).

Ia juga mengatakan, pilihan menggunakan sepeda motor menurutnya merupakan dampak dari kebijakan industri sepeda motor yang sudah berlebihan. Kebijakan sepeda motor di Indonesia selama ini harus dievaluasi dan dikaji ulang.

Baca juga: Cara Mengoperasikan Transmisi Mobil Manual yang Benar untuk Pemula

 

Petugas kepolisian mengarahkan calon pemudik yang terjaring razia penyekatan di Pintu Tol Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, untuk menaiki bus yang akan membawa mereka ke Terminal Pulo Gebang, Jakarta, , Kamis (21/5/2020). Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan oleh Polda Metro Jaya tersebut dibawa ke Terminal Pulo Gebang untuk kemudian diarahkan kembali menuju Jakarta.ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI Petugas kepolisian mengarahkan calon pemudik yang terjaring razia penyekatan di Pintu Tol Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, untuk menaiki bus yang akan membawa mereka ke Terminal Pulo Gebang, Jakarta, , Kamis (21/5/2020). Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan oleh Polda Metro Jaya tersebut dibawa ke Terminal Pulo Gebang untuk kemudian diarahkan kembali menuju Jakarta.

“Apalagi nanti memasuki era normal baru (the new normal) di sektor transportasi, sepeda motor merupakan kendala bagi Indonesia untuk menciptakan kehidupan bermobilitas baru,” kata Djoko.

Sebab era normal baru, menurutnya harus mengistimewakan transportasi umum yang ditopang keberadaan jalur sepeda dan fasilitas pejalan kaki untuk pergerakan jarak pendek.

“Jika kapasitas sepeda motor masih seperti sekarang tanpa batasan dan pemerintah tidak mengontrol ketat, niscaya akan selalu mengganggu setiap kebijakan pemerintah dalam hal mengelola transportasi,” tuturnya.

Baca juga: Berbahayakah Tinggalkan Hand Sanitizer di Kabin Mobil?

 

Petugas di titik check point Bundaran Kepuh, Jalan Lingkar Luar Karawang tengah memeriksa suhu tubuh pengendara, Jumat (14/5/2020).KOMPAS.COM/FARIDA Petugas di titik check point Bundaran Kepuh, Jalan Lingkar Luar Karawang tengah memeriksa suhu tubuh pengendara, Jumat (14/5/2020).

Djoko menambahkan, upaya pemerintah untuk mencegah warga Jabodetabek tidak melakukan mudik mengalami kegagalan.

Pengawasan transportasi umum dianggap masih kecolongan, belum lagi warga pemilik kendaraan pribadi yang mudik lewat jalan-jalan tikus, dan tidak taat aturan seperti tidak membawa surat keterangan sehat.

“Selain keterbatasan personel untuk melakukan pencegahan, juga tingkat kesadaran masyarakat masih sangat rendah terhadap bahaya penyeberan virus vorona di masa pandemi ini,” ucap Djoko.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.