Pengusaha Truk Protes Diskon Bensin dari Pemerintah Tebang Pilih

Kompas.com - 20/04/2020, 10:22 WIB
pengemudi truk gridoto.compengemudi truk

JAKARTA, KOMPAS.com – Para penguasaha truk menyatakan kecewa dengan kebijakan pemerintah berupa pemberian diskon dari PT Pertamina (Persero) pada driver ojol mulai 14 April-12 Juli 2020, karena dianggap tebang pilih alias tidak merata.

Kyatmaja Lookman, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia, mengatakan, kebijakan memberi diskon untuk pengemudi ojol tidak adil, karena belum ada informasi juga kalau pengemudi truk bisa mendapatkan insentif yang serupa.

“Kurang adil ya, pengemudi truk juga minta dikasih diskon untuk pembelian bahan bakar. Enggak ada info mengenai bantuan untuk pengemudi truk,” ucap Kyatmaja kepada Kompas.com, Minggu (19/4/2020).

Baca juga: Mitos atau Fakta, Kunci Setang Skutik ke Kanan Persulit Aksi Maling?

Ilustrasi bus AKAP di sebuah terminaltribunnews.com Ilustrasi bus AKAP di sebuah terminal

Bantuan tersebut, sebelumnya disampaikan oleh Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, berupa promo cashback atau pengembalian tunai sebesar 50 persen kepada 10.000 pengemudi ojol per hari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Cashback akan diberikan untuk pembelian bensin Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo melalui aplikasi MyPertamina. Namun, promo hanya dapat dinikmati untuk maksimal cashback sebesar Rp 15.000.

"Untuk sobat rider ojek online, dapatkan cashback 50 persen maksimal Rp 15.000 bagi 10.000
pengendara ojek online per hari, untuk pembelian Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo melalui aplikasi MyPertamina," ujar Ahok lewat cuitannya pada Selasa, (14/4/2020).

Baca juga: Begini Bocoran Tampang Nissan X-Trail Terbaru

Menanggapi insentif yang sama, Kurnia Lesani Adnan, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), mengatakan kalau kebijakan lagi-lagi timpang, terlalu menguntungkan pengemudi ojol.

Ojol itu kan notabene kendaraan pribadi yang digunakan menjadi alat usaha, artinya bukan alat/sarana umum. Mengapa pemerintah tidak memberikan kebijakan tersebut kepada angkutan umum yang resmi,” Kata pria yang akrab disapa Sani kepada Kompas.com.

Sani juga menyayangkan, mengapa ojol terus yang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Padahal pengusaha otobus (PO) sudah mulai berkurang pendapatannya sejak akhir Maret karena adanya imbauan untuk tetap di rumah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.